Penandatanganan kerangka kerja sama dilakukan antara PT Aneka Tambang (Antam), Industri Baterai Indonesia (IBI), dan HYD di kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jumat (30/1).
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjelaskan, proyek yang dinamai Titan ini akan menjadi langkah strategis Indonesia untuk memperkuat posisi sebagai negara produsen bahan baku baterai mobil listrik terbesar kedua di dunia, setelah China.
"Program ini merupakan kelanjutan dari 10 giga pertama pada 2023 yang kini sudah beroperasi. Nilai investasinya US$ 7-8 miliar, dan pemerintah akan menjadi pemegang saham mayoritas di atas 50%," ujar Bahlil.
Proyek Titan akan dibangun di dua lokasi.
Pabrik baterai mobil direncanakan berada di Jawa Barat, sementara smelter, prekursor katoda, dan fasilitas HPAL akan dibangun di Halmahera Timur, Maluku Utara, menyesuaikan lokasi tambang nikel yang menjadi bahan baku utama.
Menurut Bahlil, pengembangan kapasitas produksi baterai ini ditargetkan mencapai 20 GW, seiring dengan upaya transisi energi hijau dan pengurangan ketergantungan impor BBM.
"Tidak ada cara lain untuk mencapai ketahanan energi selain konversi kendaraan bermesin bensin ke listrik," tambahnya.
Awalnya, proyek ini direncanakan digarap oleh investor asal Korea Selatan, LG, namun karena proses eksekusinya dianggap lambat, pemerintah memutuskan mengganti mitra dengan konsorsium China.
Pemerintah menekankan bahwa keterlibatan BUMN dan kepemilikan mayoritas negara dalam proyek ini menjadi strategi memastikan kekayaan alam dikelola untuk kesejahteraan rakyat.
Selain itu, proyek ini diharapkan mendorong penciptaan lapangan kerja baru, pengembangan industri lokal, serta memperkuat posisi Indonesia di pasar global bahan baku baterai kendaraan listrik.*
(d/dh)
Editor
: Adam
Indonesia Gandeng China Kembangkan Proyek Baterai Mobil Listrik Rp 133 Triliun, Target Jadi Ekosistem Kedua Terbesar Dunia