Pantauan pada Kamis, 5 Februari 2026, sekitar pukul 16.00 WIB, menunjukkan kondisi jalan di kawasan pasar tersebut semakin semrawut.
Kemacetan terjadi akibat keberadaan pedagang kaki lima yang memanfaatkan badan jalan, parkir kendaraan yang tidak tertata, serta lalu lintas becak bermotor (parbetor) dan mobil pribadi yang saling berebut ruang.
Minimnya kesadaran akan ketertiban dan kebersihan membuat kawasan pasar tampak amburadul, kondisi yang disebut warga terus memburuk dari tahun ke tahun.
Sejumlah warga berharap Pemerintah Kota Padangsidimpuan segera turun tangan melakukan penertiban dan penataan kawasan pasar.
Penataan parkir, pengaturan pedagang kaki lima, serta pengawasan lalu lintas dinilai mendesak agar aktivitas ekonomi tidak terganggu dan arus kendaraan tetap lancar.
"Kalau dibiarkan terus, jalan makin sempit, macet makin parah. Kami mohon pemerintah bisa menata pedagang dan parkir supaya tidak menghambat kendaraan yang lewat," ujar salah seorang warga di lokasi.
Di tengah kondisi pasar yang semrawut, para pedagang juga menghadapi persoalan lain: daya beli masyarakat yang belum menunjukkan tanda-tanda membaik, meski Ramadan 1447 Hijriah tinggal sekitar dua pekan lagi.
Muhammad Amin Lubis, salah seorang pedagang di Pasar Sangkumpal Bonang, mengatakan perputaran ekonomi tahun ini terasa lebih berat dibanding tahun sebelumnya.
"Memang agak sunyi tahun ini. Ekonomi terasa makin berat. Kami pedagang banyak berharap dari pembeli kalangan ASN. Kalau mereka jarang belanja ke pasar, dagangan kami sepi," kata Amin.
Ia menduga kebijakan efisiensi anggaran ikut memengaruhi daya beli masyarakat. Menurutnya, penjualan tahun lalu jauh lebih baik dibandingkan kondisi saat ini.
"Lebih laris tahun lalu daripada sekarang. Mungkin karena pengaruh efisiensi anggaran," ujarnya.