Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar membuat ratusan nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut selama beberapa minggu terakhir.
Kondisi ini tidak hanya memukul sektor perikanan, tetapi juga mengancam perekonomian keluarga nelayan jelang bulan suci Ramadan.
Pantauan di lapangan pada Minggu (8/2/2026) menunjukkan aktivitas di dermaga dan pesisir Tanjung Tiram tampak lengang. Kapal-kapal nelayan bersandar tanpa kepastian kapan dapat kembali berlayar.
Solar, yang menjadi urat nadi operasional kapal nelayan, semakin sulit didapatkan. Kalaupun tersedia, harganya melonjak jauh di luar kemampuan nelayan kecil.
Salah seorang nelayan yang enggan disebutkan namanya mengaku sudah berminggu-minggu tidak melaut akibat krisis solar.
Menurutnya, sebagian besar nelayan tidak memiliki alternatif lain selain melaut untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
"Kami resah, Bang. Solar susah sekali didapat. Sudah beberapa minggu kapal kami parkir saja. Mau melaut bagaimana kalau minyak tidak ada?" ujarnya dengan nada penuh keluhan.
Ia menegaskan bahwa sekitar 65 persen warga Tanjung Tiram berprofesi sebagai nelayan, sehingga kelangkaan solar berdampak langsung pada perekonomian masyarakat secara luas.
Kondisi ini tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut hajat hidup banyak orang.
"Ini bukan hanya soal kami tidak bisa melaut, tetapi juga soal makan anak istri. Apalagi puasa sudah dekat. Biasanya kami pergi ke laut untuk mempersiapkan kebutuhan Ramadan, tapi sekarang semuanya sulit," tambahnya.
Para nelayan menilai, kelangkaan solar yang terus berlanjut menunjukkan lemahnya pengawasan dan distribusi BBM bersubsidi di wilayah pesisir.
Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Batu Bara bersama instansi terkait, termasuk Pertamina dan pengelola SPBU/SPBUN, segera turun tangan untuk mencari solusi konkret.
Nelayan mendesak penataan distribusi solar yang adil dan tepat sasaran, khususnya bagi nelayan kecil yang sangat bergantung pada BBM subsidi.
Mereka juga meminta pemerintah tidak mengabaikan kondisi riil di lapangan, karena dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.
"Kami hanya minta keadilan. Tolong carikan solusi agar solar tersedia dan kami bisa kembali melaut. Jangan sampai nelayan terus menjadi korban," tegas nelayan tersebut.
Jika kelangkaan ini tidak segera diatasi, para nelayan khawatir kondisi ekonomi masyarakat pesisir Tanjung Tiram akan semakin terpuruk.
Aktivitas melaut yang terhenti berarti tidak ada penghasilan, sementara kebutuhan hidup terus berlanjut.
Kini, harapan nelayan sepenuhnya tertuju pada langkah cepat dan nyata dari Pemkab Batu Bara, agar jeritan masyarakat pesisir tidak hanya menjadi keluhan tanpa solusi.*