Penguatan rupiah terjadi di tengah proyeksi pelonggaran kebijakan moneter The Fed yang menekan nilai dolar.
Namun, pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi rupiah pekan ini akan bergerak fluktuatif di rentang Rp16.750 hingga Rp17.200 per dolar AS.
Untuk perdagangan Senin (9/2), ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.870–Rp16.920.
Ibrahim menyoroti faktor geopolitik Amerika Serikat sebagai salah satu pengaruh utama terhadap rupiah.
Pasar kini menantikan hasil pembicaraan antara Iran dan AS yang diharapkan meredakan ketegangan di kawasan Teluk.
Namun, ketidaksepakatan kedua pihak mengenai pembahasan persenjataan rudal Iran menjadi salah satu sumber ketidakpastian.
"Iran merupakan produsen minyak utama dan terletak di jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Ketidakpastian geopolitik ini menjadi perhatian pasar global, termasuk pergerakan rupiah," ujar Ibrahim.
Selain itu, data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan pemutusan hubungan kerja tertinggi sejak 2009 dan klaim pengangguran yang lebih besar dari perkiraan turut menekan dolar, sekaligus memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga The Fed.
Sentimen domestik juga memengaruhi pergerakan rupiah.
Moody's Ratings menurunkan rating outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat utang tetap di level Baa2 alias layak investasi (investment grade).
Menurut Ibrahim, penurunan ini menambah kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian kebijakan dan tata kelola pemerintahan.
"Meski Indonesia masih tergolong investment grade, penurunan outlook ini bisa memengaruhi kepercayaan investor dan menekan rupiah dalam jangka pendek," katanya.
Pada penutupan pasar Jumat (6/2), rupiah melemah 34 poin ke Rp16.876 per dolar AS, menunjukkan volatilitas yang cukup tinggi di tengah sentimen global dan domestik.
Disclaimer: Berita ini bersifat informatif dan tidak menjadi ajakan membeli atau menjual mata uang. Keputusan investasi sepenuhnya di tangan pembaca.*