BREAKING NEWS
Sabtu, 20 Juni 2026

IHSG Jeblok 4,38% di Awal Pekan, Saham Energi Justru Menguat

- Senin, 09 Maret 2026 09:23 WIB
IHSG Jeblok 4,38% di Awal Pekan, Saham Energi Justru Menguat
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah cukup dalam pada perdagangan Senin pagi (9/3/2026), di tengah kekhawatiran investor atas perkembangan geopolitik Timur Tengah dan sentimen data ekonomi global.

Berdasarkan pantauan Stockbit Sekuritas pukul 09.02 WIB, IHSG anjlok 4,38% ke level 7.253,29.

Baca Juga:
Koreksi terjadi hampir di seluruh saham unggulan, termasuk PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) yang merosot 8,70% ke Rp210 per saham, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 1,79% ke Rp6.875, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) melemah 4,39% ke Rp3.050.

Namun, beberapa saham sektor energi justru mencatatkan penguatan signifikan. PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) naik 4,11% ke Rp1.900, sedangkan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) melonjak 5,10% ke Rp1.855.

Menurut data indeks saham sektoral, seluruh sektor dibuka di zona merah.

Koreksi terbesar terjadi pada sektor bahan dasar (basik material) yang turun 7,67%, diikuti sektor infrastruktur turun 5,97% dan konsumer siklikal melemah 5,89%.

Analis Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG bergerak di rentang support 7.300 hingga resistance 7.700 pada perdagangan hari ini.

Sementara pada penutupan Jumat (6/3), indeks komposit terkoreksi 1,62% ke level 7.585.Sentimen negatif datang dari pasar global.

Wall Street mengalami pelemahan signifikan pada Jumat (6/3), sementara harga minyak mentah WTI naik di atas US$90 per barel, mencatat penguatan mingguan terbesar sejak 1983.

Kekhawatiran investor meningkat menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump bahwa perang AS-Iran tidak akan berakhir tanpa "penyerahan tanpa syarat" dari Iran.

Selain itu, serangan Israel terhadap depot minyak di Iran pada Sabtu (7/3) menambah kekhawatiran gangguan pasokan minyak global.

Kondisi ini berpotensi mendorong harga energi naik, meningkatkan risiko inflasi dan stagflasi di pasar global.

Di dalam negeri, realisasi defisit APBN Februari 2026 mencapai Rp135,7 triliun atau 0,53% dari PDB, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 0,13%.

Sementara itu, pendapatan negara tercatat Rp358 triliun, naik dari Rp317,4 triliun di Februari 2025.

Baca Juga:

Belanja negara, termasuk program makan bergizi gratis, belanja pegawai, dan subsidi, tumbuh 41,9% YoY menjadi Rp493,8 triliun.

Investor akan mencermati data inflasi AS dan China, serta data IKK, penjualan ritel, dan penjualan otomotif domestik pekan ini.

IHSG diperkirakan kembali menguji level 7.480, dan bila tembus, berpotensi menyentuh support berikutnya di 7.250–7.300.

Disclaimer: Berita ini disajikan untuk tujuan informasi dan bukan merupakan rekomendasi investasi.

Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca.*


(bi/ad)

Editor
: Nurul
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Rupiah Anjlok ke Rp17.000! Tembus Level Tertinggi Sejak Pandemi dan Krisis 1998
Harga Emas Antam Turun ke Rp 3 Juta per Gram, Dolar AS dan Minyak Jadi Pemicu
Prabowo dan Ideologi Realisme (Thucydides, Cautilya, dan Mearsheimer)
Keputusan Pemerintah Cabut Izin 28 Perusahaan Dinilai Keliru, Jamal Sinaga: Harusnya Hentikan Sementara
Sawit: Sumber Energi Nasional yang Kini Jadi 'Tameng' di Tengah Krisis Energi Global
IHSG Anjlok 7,89 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Bursa Turun Rp1.160 Triliun
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru