BREAKING NEWS
Sabtu, 08 Agustus 2026

Dulu Dicibir Sampai Digugat WTO, Kini Investor Nikel Malah Antre ke RI

Johan - Sabtu, 08 Agustus 2026 12:19 WIB
Dulu Dicibir Sampai Digugat WTO, Kini Investor Nikel Malah Antre ke RI
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan saat Peluncuran dan Bedah Buku karya Bahlil Lahadalia, Jumat (7/8). (Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menilai manfaat hilirisasi perlu dirasakan lebih adil oleh daerah penghasil dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan industri. Hal tersebut disampaikan saat menghadiri peluncuran dan bedah buku "10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia" di Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Menurut Luhut, hilirisasi mineral memang telah mencatatkan berbagai capaian, namun masih ada sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait pemerataan manfaat ekonomi, peningkatan peran pengusaha lokal, serta penguatan aspek lingkungan dan keselamatan kerja. "Manfaat hilirisasi harus lebih adil bagi daerah dan masyarakat sekitar industri. Pengusaha nasional dan pengusaha daerah harus naik kelas dalam rantai nilai. Teknologi harus dikuasai anak bangsa dan standar lingkungan serta keselamatan tidak bisa ditawar," ujar Luhut.

Luhut menambahkan, pemenuhan standar lingkungan menjadi semakin penting seiring tuntutan pasar global terhadap rantai pasok yang bersih dan berkelanjutan. Menurutnya, standar lingkungan bukan lagi sekadar pilihan bagi pelaku industri, melainkan menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing Indonesia. "Pasar dunia semakin menuntut pasok yang bersih. Jadi ini bukan lagi pilihan, ini syarat berdaya saing," katanya.

Baca Juga:

Dalam kesempatan tersebut, Luhut turut mengenang perjalanan awal kebijakan hilirisasi mineral, khususnya saat pemerintah melarang ekspor bijih nikel pada 2019. Kebijakan itu sempat mendapat banyak penolakan dan tekanan, termasuk gugatan Indonesia di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). "Saya masih ingat masa-masa awal larangan ekspor bijih nikel. Kami dicibir, kami ditekan dari berbagai arah, kami digugat sampai ke WTO, dan banyak yang bilang Indonesia tidak akan sanggup. Ada yang mentertawakan," ujar Luhut.

Ia menyebut kondisi tersebut kini telah berubah seiring keberhasilan hilirisasi yang membuat semakin banyak investor tertarik menanamkan modal di sektor ini. "Namun sekarang, saya kira Pak Bahlil tegak berdiri mengatakan 'Kami Bisa'. Sebagian yang dulu mentertawakan itu justru sekarang antre minta bertemu dengan Pak Bahlil, mau ikut investasi," kata Luhut.

Luhut juga menyoroti pertumbuhan ekonomi Morowali, Sulawesi Tengah, dan Halmahera Tengah, Maluku Utara, yang menjadi pusat industri pengolahan nikel. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Halmahera Tengah pada 2024 tercatat sebesar 18,40 persen, sementara ekonomi Morowali tumbuh 16,26 persen pada tahun yang sama. "Ekspor produk nikel dan turunannya melonjak berlipat ganda. Morowali dan Halmahera Tengah yang dulu nyaris tidak tercatat dalam peta ekonomi nasional, sekarang tumbuh dua digit dan menjadi bagian dari rantai pasok industri dunia," ujarnya.

Meski menilai hilirisasi telah memberikan dampak positif terhadap perekonomian, Luhut mengakui masih terdapat sejumlah persoalan yang perlu diperbaiki, salah satunya keterlibatan pengusaha lokal di daerah penghasil yang menurutnya masih banyak belum mendapatkan manfaat optimal dari perkembangan kawasan industri di wilayahnya. Ia menilai penguasaan teknologi oleh sumber daya manusia dalam negeri perlu terus diperkuat, begitu juga standar lingkungan dan keselamatan kerja yang harus menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengembangan industri. "Bahwa pekerjaannya belum selesai tentunya. Bagian untuk daerah penghasil belum adil, pengusaha lokal masih banyak menjadi penonton di rumahnya sendiri. Ada persoalan lingkungan, ada persoalan keterampilan pekerja, dan ini ditulis oleh Pak Bahlil secara terbuka," ujar Luhut.* (k/dh)

Editor
: Dharma
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo: Jadi Pemimpin Itu Tidak Rumit, Cintai Rakyat dan Gunakan Akal Sehat
BRIN Pamer Robot hingga Kendaraan Listrik Otonom di Hadapan Prabowo, Istana: Indonesia Mampu Jawab Kebutuhan Strategis Bangsa
Prabowo Bakal Kumpulkan Seluruh Kepala Daerah, Ada Agenda Besar Apa?
Mualem Bertemu Hashim Djojohadikusumo, Bahas Percepatan Investasi dan Hilirisasi Energi Aceh
Bobby Nasution Ajak 10 Provinsi Bersinergi, Hilirisasi dan Pariwisata Jadi Mesin Ekonomi Sumatera
Rumput Laut Dongkrak Ekonomi Warga Nias Utara, Wagub Sumut Dorong Hilirisasi
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru