Ketegangan di Timur Tengah ini tak hanya mempengaruhi kawasan tersebut, namun juga merembet ke pasar energi global, menyebabkan harga minyak mentah dan bahan bakar di tingkat konsumen naik di berbagai negara.
Menurut laporan Al Jazeera yang dikutip pada Kamis (19/3/2026), setidaknya 85 negara di seluruh dunia melaporkan kenaikan harga BBM sejak dimulainya serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Di Asia Tenggara, Vietnam menjadi negara dengan lonjakan harga bensin terbesar.
Sejak terjadinya konflik, harga bensin oktan 95 di negara tersebut melonjak hampir 50 persen, dari sekitar USD 0,75 per liter pada 23 Februari 2026, menjadi USD 1,13 per liter pada 9 Maret 2026.
Dalam mata uang Rupiah, harga tersebut meningkat dari sekitar Rp 12.733 per liter menjadi Rp 19.184 per liter, berkat kurs dolar AS yang melejit.
Selain Vietnam, beberapa negara ASEAN juga mencatatkan kenaikan harga BBM yang cukup signifikan.
Laos mengalami kenaikan sekitar 33 persen, sementara Kamboja mencatatkan kenaikan harga sebesar 19 persen.
Negara tetangga seperti Singapura, yang tidak termasuk dalam ASEAN secara formal, juga mencatatkan lonjakan harga yang cukup besar.
Singapura Menyentuh Rekor Harga BBM Tertinggi Sejak 2022
Di Singapura, harga BBM RON 95 tercatat naik ke level tertinggi sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Caltex, salah satu perusahaan pengisian bahan bakar terbesar di Singapura, menaikkan harga BBM RON 95 sebesar 10 sen menjadi USD 3,45 per liter, atau sekitar Rp 58.305 per liter pada 13 Maret 2026.
Harga ini lebih tinggi dari rekor sebelumnya yang tercatat pada tahun 2022, yakni USD 3,42 per liter.
Perusahaan lain seperti Shell, Esso, dan Sinopec juga menawarkan harga sekitar USD 3,40 per liter, atau Rp 57.460 per liter, sedangkan harga termurah ada di SPC (Singapore Petroleum Company) dengan USD 3,39 per liter atau sekitar Rp 57.291 per liter.
Kenaikan harga bahan bakar ini menunjukkan dampak langsung dari ketegangan geopolitik yang berlangsung di Timur Tengah.
Pasokan minyak mentah global terganggu, sementara ketidakpastian di pasar energi internasional terus berlanjut.
Para analis ekonomi mengingatkan bahwa konflik ini bisa mengarah pada dampak yang lebih luas, tidak hanya di Asia Tenggara, namun juga di seluruh dunia, dengan kenaikan harga energi yang dapat mempengaruhi daya beli konsumen, serta memicu lonjakan inflasi di berbagai negara.*