JAKARTA - Tekanan global untuk mempercepat transisi energi semakin besar, seiring dengan meningkatnya emisi karbon dari sektor energiIndonesia dalam dua dekade terakhir.
Pemerintah Indonesia melalui dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC) menargetkan penurunan emisi yang signifikan pada periode 2030-2035 sebagai bagian dari jalur menuju net zero emission (NZE) pada tahun 2060.
Namun, kenyataannya, sektor energi Indonesia masih bergantung besar pada energi fosil, khususnya batu bara, yang menjadi tantangan utama dalam transisi energi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan emisi dari sektor energiIndonesia meningkat tajam, dari 317 juta ton CO₂e pada tahun 2000, menjadi 752 juta ton CO₂e pada 2023.
Bahkan Indonesia kini menjadi penyumbang emisi terbesar di Asia Tenggara, jauh melampaui negara-negara ASEAN lainnya.
Dalam hal konsumsi energi, batu bara masih mendominasi dengan 43,9% dari total konsumsi 10,75 exajoules pada 2024.
Sementara itu, energi baru terbarukan (EBT) baru berkontribusi sekitar 10,8%.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pemerintah telah menetapkan kebijakan phase down batu bara, ketergantungan terhadap batu bara masih sangat besar.
Tantangan Kebutuhan Listrik di Tengah Transisi Energi
Kebutuhan listrik Indonesia diproyeksikan terus meningkat seiring pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan urbanisasi.
Dengan konsumsi listrik per kapita yang jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, Indonesia memiliki ruang pertumbuhan konsumsi listrik yang besar.