Namun, ketergantungan pada batu bara untuk menghasilkan listrik bertentangan dengan tujuan transisi energi nasional.
Pemerintah Indonesia dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 telah menetapkan kebijakan untuk menggantikan pembangkit listrik berbasis batu bara dengan energi yang lebih bersih.
Salah satu alternatif yang kini menjadi sorotan adalah teknologi nuklir, khususnya teknologi reaktor garam cair atau Molten Salt Reactor (MSR).
Teknologi Nuklir Garam Cair: Solusi Energi Bersih dan Terjangkau
Teknologi MSR, yang pertama kali dikembangkan oleh Oak Ridge National Laboratory pada 1960-an, kini kembali mendapat perhatian.
MSR menggunakan garam cair sebagai pendingin dan bahan bakar, memungkinkan efisiensi termal yang lebih tinggi dan risiko yang lebih rendah dibandingkan reaktor nuklir konvensional.
Selain itu, teknologi ini juga fleksibel dalam hal bahan bakar, termasuk kemungkinan menggunakan uranium bekas dan thorium di masa depan.
Salah satu perusahaan yang sedang mengembangkan teknologi ini untuk pasar negara berkembang adalah PT Thorcon Power Indonesia.
Pendiri Thorcon, Jack Devanney, mengusulkan pendekatan manufaktur di galangan kapal untuk pembangunan reaktor MSR, yang memungkinkan pembangkit nuklir selesai dalam waktu yang lebih singkat dan biaya yang lebih rendah.
Indonesia sebagai Lokasi Strategis Pengembangan Teknologi MSR
Indonesia, dengan kebutuhan energi yang terus berkembang, menjadi lokasi strategis bagi pengembangan teknologi MSR.
Sejak 2021, PT Thorcon Power Indonesia telah memulai proses perizinan untuk pembangunan pembangkit nuklir demonstrasi di Indonesia.