Pada 2025, perusahaan ini memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) untuk lokasi yang diusulkan di Pulau Kelasa, Bangka Tengah.
Reaktor garam cair yang direncanakan di Pulau Kelasa ini akan menjadi unit demonstrasi sebelum pengembangan komersial dilakukan secara lebih luas.
Dengan teknologi ini, Indonesia dapat mempercepat transisi energi, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, dan mendukung rencana pemerintah untuk memasukkan energinuklir ke dalam bauran energi nasional pada 2060.
Keunggulan utama MSR adalah waktu konstruksi yang lebih cepat dan biaya yang lebih terjangkau.
Pembangkit listrik nuklir tradisional umumnya memerlukan waktu lebih dari enam tahun untuk konstruksi.
Sebaliknya, reaktor MSR yang dikembangkan oleh Thorcon dirancang untuk dibangun dalam waktu sekitar satu tahun, dengan pengujian dan komisioning yang memakan waktu tambahan satu tahun.
Ini tentu saja mengurangi risiko pembiayaan dan kebutuhan modal proyek yang sangat besar.
Selain itu, dengan target harga listrik sekitar USD 0,07 per kWh, MSR dapat bersaing dengan pembangkit listrik berbasis batu bara, yang sering kali menjadi opsi utama bagi negara berkembang yang ingin mengadopsi energi baru.
Hal ini menjadikan MSR sebagai solusi praktis dan terjangkau untuk negara-negara yang membutuhkan pasokan listrik bersih dalam skala besar.