JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolarAmerika Serikat dibuka melemah pada perdagangan Jumat pagi (27/3/2026), seiring tekanan eksternal dan pergerakan mata uang kawasan Asia yang cenderung lesu.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, Rupiah Indonesia terdepresiasi 0,12 persen ke level Rp16.924 per dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah pergerakan indeks dolar AS (greenback) yang juga terkoreksi tipis 0,04 persen ke level 99,85.
Sejumlah mata uang Asia turut mengalami tekanan. Dolar Hong Kong, dolar Taiwan, peso Filipina, rupee India, hingga ringgit Malaysia tercatat melemah terhadap dolar AS.
Sebaliknya, beberapa mata uang lainnya seperti baht Thailand, won Korea Selatan, dolar Singapura, dan yen Jepang justru menguat.
Analis pasar keuangan dari Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi dinamika global, khususnya terkait perkembangan geopolitik di Iran dan Amerika Serikat.
Menurut dia, pasar merespons kemungkinan de-eskalasi konflik setelah muncul wacana proposal perdamaian.
Namun, ketidakpastian tetap tinggi karena belum ada negosiasi langsung antara kedua pihak.
Kondisi tersebut berdampak pada fluktuasi harga energi global.
Harga minyak dunia sempat melonjak di atas US$119 per barel, sebelum kembali bergerak di kisaran US$93,25 untuk WTI dan US$106,61 untuk Brent.
Risiko terhadap jalur distribusi energi global di Selat Hormuz juga masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Dari dalam negeri, sentimen relatif stabil. Pemerintah disebut belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, seiring kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dinilai masih mampu meredam tekanan harga energi.
Dengan berbagai faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp16.900 hingga Rp16.940 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini.*