BREAKING NEWS
Minggu, 04 Oktober 2026

Mengingat Kembali Strategi BJ Habibie dalam Menstabilkan Rupiah di Krisis 1998: Dari Rp 17.000 ke Rp 6.500

Raman Krisna - Minggu, 17 Mei 2026 17:19 WIB
Mengingat Kembali Strategi BJ Habibie dalam Menstabilkan Rupiah di Krisis 1998: Dari Rp 17.000 ke Rp 6.500
Presiden Indonesia B.J. Habibie saat wawancara dengan wartawan di kantor Presiden Bina Graha di Jakarta 11 Juli 1998. (Foto: AFP/KEMAL JUFR)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA - Di tengah kembali melemahnya nilai tukar rupiah yang menembus kisaran Rp 17.500 per dolar Amerika Serikat pada 2026, publik kembali menengok salah satu periode paling krusial dalam sejarah ekonomi Indonesia: krisis moneter 1998.

Saat itu, rupiah sempat terpuruk hingga sekitar Rp 17.000 per dolar AS, disertai guncangan hebat pada sektor perbankan, pasar keuangan, hingga stabilitas sosial-politik nasional.

Namun dalam masa kepemimpinan Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, rupiah perlahan menunjukkan pemulihan signifikan hingga kembali menguat ke kisaran Rp 6.500 per dolar AS dalam kurun waktu sekitar 17 bulan.

Baca Juga:

Salah satu momentum yang kembali banyak disorot adalah pidato Habibie dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) di London, Inggris, pada 1 April 1998.

Dalam forum yang dihadiri para pemimpin negara Asia dan pelaku ekonomi internasional tersebut, Habibie berupaya meyakinkan dunia bahwa Indonesia masih memiliki peluang kuat untuk bangkit dari krisis.

Ia menegaskan bahwa krisis justru dapat menjadi titik balik untuk perbaikan fundamental ekonomi nasional.

"Faktanya, kita sedang keluar dari masalah ini, dan jika kita berhasil melewatinya, kita akan menjadi lebih baik dari sebelumnya karena kita akan belajar dari kesalahan kita sendiri dan juga dari kesalahan orang lain," ujar Habibie, dikutip dari AP Archive.

Ia juga menekankan pentingnya keberanian mengambil keputusan dalam situasi krisis.

Menurutnya, waktu adalah faktor penting dalam proses pemulihan ekonomi, sehingga pemerintah tidak boleh membiarkan ketidakpastian berlarut-larut.

"Cara terbaik untuk meyakinkan Anda bahwa Anda harus berubah adalah dengan menghadapi masalah tersebut dan menyelesaikannya. Waktu adalah uang, jadi kita tidak boleh membuang waktu," lanjutnya.

Reformasi perbankan dan fondasi pemulihan

Di tengah tekanan krisis, pemerintah saat itu juga menjanjikan reformasi besar-besaran pada sektor keuangan.

Habibie menegaskan komitmen untuk memulihkan kredibilitas sistem perbankan nasional melalui pembaruan regulasi, termasuk penguatan hukum kepailitan, pengawasan perbankan, serta penguatan independensi Bank Indonesia.

Langkah tersebut kemudian diikuti dengan restrukturisasi besar sektor perbankan, termasuk konsolidasi sejumlah bank menjadi institusi yang lebih kuat secara permodalan.

Dari proses ini, salah satu entitas besar yang lahir adalah Bank Mandiri.

Selain itu, pemisahan Bank Indonesia dari pemerintah menjadi salah satu tonggak penting dalam reformasi kelembagaan ekonomi Indonesia.

Kebijakan ini dinilai memperkuat independensi bank sentral dalam menjaga stabilitas moneter.

Pemulihan kepercayaan dan dampak ekonomi

Seiring implementasi reformasi tersebut, kepercayaan investor asing secara perlahan kembali tumbuh.

Arus modal masuk kembali ke Indonesia, membantu memperkuat nilai tukar rupiah yang sebelumnya tertekan hebat.

Dalam periode pemulihan, rupiah tercatat menguat dari sekitar Rp 17.000 per dolar AS menjadi kisaran Rp 6.500 per dolar AS. Perbaikan ini juga tercermin pada indikator ekonomi makro.

Setelah terkontraksi hingga minus 13,33 persen pada 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali positif menjadi sekitar 0,79 persen pada 1999.


Di sisi lain, tingkat kemiskinan juga menunjukkan penurunan, dari 24,2 persen pada 1998 menjadi 23,4 persen pada 1999.

Capaian tersebut menjadi salah satu indikator awal stabilisasi ekonomi pascakrisis.

Kini, di tengah tekanan nilai tukar yang kembali menguat, narasi pemulihan era Habibie kembali menjadi bahan refleksi: bahwa krisis ekonomi, meski berat, dapat menjadi titik awal reformasi besar jika diikuti langkah kebijakan yang cepat, tegas, dan terukur.*


(km/ad)

Editor
: Johan
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Wagub Sumut Sebut HUT ke-154 Jadi Momentum Kota Binjai Naik Kelas Jadi Kota Kompetitif dan Maju
Anies Kritik Program MBG Prabowo, Sebut Pemerintah Harus Percaya pada Rakyat
Tak Hanya Jaga Keamanan, Polri Kini Aktif di Sektor Pertanian: Ini Kata Lemkapi
Orang Desa Tidak Pakai Dolar dan Retorika Populis Prabowo
Bobby Nasution Hadiri Kontes Burung Berkicau di Medan, Singgung Lagu Viral ‘Kicau Mania’
Pengamat Soroti Program MBG Prabowo: Bagus, Tapi Terlalu Dipaksakan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru