Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Pada pukul 09.28 WIB, mata uang Garuda terdepresiasi 27 poin atau 0,15 persen ke level Rp18.024 per dollar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka melemah 32 poin atau 0,18 persen ke level Rp18.029 per dollar AS pukul 09.00 WIB.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Senin (3/8/2026), kurs rupiah menguat 25 poin atau 0,14 persen ke level Rp17.997 per dollar AS.
Baca Juga:
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pasar masih akan mencermati perkembangan ekonomi Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve (The Fed), serta berbagai sentimen global yang dapat memengaruhi pergerakan dollar AS.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada rangkaian data ketenagakerjaan AS, mulai dari Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), ADP Employment Report, hingga nonfarm payrolls (NFP) yang akan dirilis sepanjang pekan ini.
Menurutnya, data-data tersebut menjadi indikator penting bagi pelaku pasar dalam memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed. Data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat dollar AS karena meningkatkan peluang suku bunga bertahan lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama. Sebaliknya, data yang melemah dapat membuka ruang bagi pelemahan dollar AS.
Dari sejumlah data tersebut, laporan NFP menjadi salah satu perhatian utama karena memberikan gambaran mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS secara keseluruhan dan berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan global.
Dari sisi eksternal, Ibrahim menilai penguatan rupiah sebelumnya juga didukung oleh meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan pembatalan rencana serangan militer besar terhadap Iran dan membuka peluang negosiasi.
Perkembangan tersebut mendorong penurunan harga minyak dunia lebih dari 5 dollar AS per barrel sehingga mengurangi kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global. Kondisi itu turut menekan penguatan dollar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
Sementara dari dalam negeri, sentimen positif berasal dari membaiknya aktivitas manufaktur Indonesia. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 dengan mencapai level 50,2, naik dari 46,9 pada Juni 2026. Perbaikan tersebut menunjukkan aktivitas industri mulai pulih setelah sebelumnya mengalami kontraksi.
Selain itu, Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan pada Juli 2026 dengan inflasi tahunan sebesar 2,88 persen. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga domestik masih relatif terkendali.
Ibrahim menyebut, hal tersebut turut memberikan sentimen positif terhadap stabilitas ekonomi domestik dan mendukung pergerakan rupiah. Ia memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (4/8/2026) dalam kisaran Rp17.990 hingga Rp18.040 per dollar AS.* (k/dh)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.