BREAKING NEWS
Sabtu, 26 September 2026

Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Tapi Mengapa Daya Beli Masyarakat Melemah?

Johan - Sabtu, 08 Agustus 2026 22:14 WIB
Ekonomi RI Tumbuh 5,29 Persen, Tapi Mengapa Daya Beli Masyarakat Melemah?
Pasar Baru Simpang Limun di Kota Medan, Sumatera Utara. (foto: Dolan Medan/fb)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap berada di atas 5 persen dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi kesejahteraan masyarakat.

Ekonom sekaligus Pakar Kebijakan Publik Achmad Nur Hidayat menilai masih terdapat sinyal negatif, terutama dari sisi daya beli masyarakat.

Baca Juga:
Achmad mengatakan pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari kemampuan Indonesia mempertahankan angka Produk Domestik Bruto (PDB) di atas 5 persen.

Menurut dia, kualitas pertumbuhan juga perlu diukur dari dampaknya terhadap kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah konsumsi rumah tangga.

Berdasarkan data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), konsumsi rumah tangga pada kuartal II 2026 tumbuh 5,06 persen.

Namun, angka tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,52 persen.

"Ini artinya, daya beli masyarakat belum benar-benar kuat. Ketika pertumbuhan konsumsi melambat dari 5,52 persen menjadi sekitar 5,06 persen, dampaknya langsung terasa terhadap pertumbuhan nasional," ucap Achmad, pada Jumat 7 Agustus 2026.

Menurut Achmad, perlambatan konsumsi rumah tangga perlu menjadi perhatian karena konsumsi masyarakat masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia.

Ia menilai kondisi tersebut paling dirasakan oleh kelompok masyarakat miskin dan kelas menengah bawah.

Pertumbuhan ekonomi secara agregat memang masih menunjukkan angka positif, tetapi kondisi itu belum tentu berarti peningkatan kesejahteraan terjadi secara merata.

"Kelompok miskin dan kelas menengah bawah menjadi pihak yang paling merasakan tekanan tersebut. Pertumbuhan ekonomi tetap terlihat baik secara agregat, tetapi tidak selalu identik dengan peningkatan kesejahteraan yang merata," tutur Achmad.

Selain konsumsi masyarakat, Achmad juga menyoroti pertumbuhan investasi pada kuartal II 2026.

Menurut dia, sebagian investasi masih ditopang oleh pembangunan dan proyek yang berkaitan dengan program pemerintah.

Karena itu, ia mengingatkan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dikejar melalui besarnya belanja negara.

Baca Juga:

Belanja publik, kata dia, harus diarahkan untuk memperkuat kapasitas produksi dan menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas.

"Belanja publik harus diarahkan pada kegiatan yang memperkuat kapasitas produksi, seperti infrastruktur logistik, ketahanan pangan, pendidikan, kesehatan, serta dukungan bagi UMKM dan industri padat karya," tegas Achmad.

Ia mengatakan penguatan sektor-sektor tersebut penting agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya terlihat dalam angka, tetapi juga mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.

"Tanpa perbaikan struktur pertumbuhan, angka ekonomi dapat tetap terlihat kuat, sementara manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan oleh rakyat," tambahnya.

Di sisi lain, pemerintah menilai perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi solid di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen.

Ia menilai capaian tersebut cukup baik, terutama karena pertumbuhan tersebut terjadi tanpa adanya momentum besar seperti periode Lebaran.

"Indonesia masih mampu tumbuh sebesar 5,29 persen, dan seperti kita tahu 2 bulan ini tidak ada event besar seperti lebaran. Jadi angka 5,29 ini angka yang cukup baik," tutur Menko Airlangga.


Airlangga juga menyampaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang semester I 2026 mencapai 5,45 persen.

"Kita sepanjang 1 semester ini, kita tumbuh sebesar 5,45 persen. Di antara negara lain termasuk di ASEAN, kita adalah salah satu yang top," ucap Menko Airlangga.

Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa capaian pertumbuhan ekonomi perlu dilihat dari berbagai sisi.

Di satu sisi, pemerintah melihat pertumbuhan di atas 5 persen sebagai indikator ketahanan ekonomi.

Baca Juga:

Di sisi lain, ekonom mengingatkan agar perlambatan konsumsi rumah tangga tidak diabaikan karena berkaitan langsung dengan daya beli dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, tantangan pemerintah ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi, tetapi juga memastikan pertumbuhan tersebut mampu memperkuat daya beli, membuka lapangan kerja, serta memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat.* (di/ad)

Editor
: Mass Arie
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Prabowo Akan Rombak Buku Pelajaran SD-SMA, Ini Alasan dan Perubahannya
Satgas PRR Percepat Pemulihan 57 Ribu Hektare Sawah Terdampak Bencana di Aceh
Mahasiswa Merapat! PKL Kemendikti Saintek 2026 Batch 3 Dibuka, Ini 9 Posisi yang Bisa Dipilih
Satgas PRR Dorong Aceh Barat Percepat Realisasi Tambahan TKD Rp68,12 Miliar
Ciracas Berbenah! Jalan Lapangan Tembak Ditata, Kali Dikeruk dan Kabel Dirapikan demi Kenyamanan Warga dan UMKM
BKP 2027 Dikebut, Bobby Nasution Minta Kepala Daerah Kepulauan Nias Segera Ajukan Program
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru