Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah tipis pada awal perdagangan pekan ini, Senin, 5 Oktober 2026.
Pergerakan rupiah terjadi di tengah perhatian pasar terhadap rencana pelepasan cadangan minyak oleh negara-negara G7.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures pada pukul 09.05 WIB, rupiah berada di level Rp17.889 per dolar AS.
Baca Juga:
Posisi tersebut melemah 7 poin atau 0,04 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan rupiah pada pembukaan perdagangan sejalan dengan kondisi pasar valuta asing di kawasan Asia yang bergerak bervariasi.
Sejumlah mata uang Asia menguat terhadap dolar AS, sementara sebagian lainnya masih mengalami tekanan.
Rupee India tercatat mengalami pelemahan paling dalam, yakni 0,50 persen.
Selanjutnya, won Korea Selatan melemah 0,23 persen, dolar Singapura turun 0,12 persen, baht Thailand melemah 0,02 persen, dan peso Filipina turun tipis 0,01 persen.
Di sisi lain, dolar Taiwan mencatat penguatan terbesar terhadap dolar AS, yakni 0,26 persen.
Yen Jepang menguat 0,16 persen, yuan Cina naik 0,02 persen, dan dolar Hong Kong menguat 0,01 persen.
Sementara itu, ringgit Malaysia terhadap dolar AS cenderung stagnan.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai pergerakan rupiah pada perdagangan Senin cenderung berada dalam fase konsolidasi.
Menurut dia, ruang penguatan rupiah masih terbatas.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak mentah dunia oleh rencana pelepasan cadangan oleh negara-negara G7," ujarnya, Senin (5/10/2026).
Rencana pelepasan cadangan minyak oleh negara-negara G7 menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pasar.
Penurunan harga minyak mentah dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat terhadap dolar AS.
Namun, Lukman mengatakan penguatan rupiah masih menghadapi sejumlah hambatan.
Salah satunya adalah imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS yang masih bertahan pada level tinggi.
Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap memiliki daya tarik bagi investor sehingga ruang apresiasi rupiah menjadi terbatas.
Untuk perdagangan Senin, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS.
Pergerakan rupiah selanjutnya akan dipengaruhi oleh sentimen pasar global, perkembangan harga minyak mentah, pergerakan dolar AS, serta kondisi pasar obligasi Amerika Serikat.* (bi/ad)
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.