BREAKING NEWS
Kamis, 19 Februari 2026

Wacana PPHN Muncul Lagi, Pakar: Jangan Sampai Amandemen UUD Buka Kotak Pandora

- Sabtu, 23 Agustus 2025 23:09 WIB
Wacana PPHN Muncul Lagi, Pakar: Jangan Sampai Amandemen UUD Buka Kotak Pandora
Kubah hijau gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta. (Foto: Tri Aljumanto/detik)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA — Wacana mengenai kembalinya Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN) kembali mencuat setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengungkap keberadaan dokumen awal PPHN dalam Sidang Tahunan beberapa waktu lalu.

Meskipun demikian, banyak pihak mempertanyakan urgensi dari langkah tersebut, terlebih dalam konteks sistem pemerintahan saat ini yang telah jauh berbeda dibandingkan masa Orde Baru.

Sebagaimana diketahui, PPHN merupakan versi baru dari Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang dulu ditetapkan oleh MPR sebagai lembaga tertinggi negara.

Namun, sejak reformasi dan perubahan konstitusi, MPR tidak lagi memiliki kewenangan mengeluarkan ketetapan yang bersifat mengikat presiden.

Meski demikian, sejumlah pihak di MPR terus mendorong wacana ini dengan menyelenggarakan forum diskusi dan menjajaki tiga opsi hukum: amandemen UUD 1945, konsensus nasional, atau melalui undang-undang biasa.

Amandemen UUD 1945: Jalan Terjal Menuju PPHN?

Pengamat Hukum Tata Negara dari Universitas Mulawarman, Herdiansyah Hamzah, mengingatkan bahwa membuka kembali pintu amandemen konstitusi dapat memunculkan risiko besar bagi demokrasi Indonesia.

"Kalau amandemen itu didorong hanya untuk legitimasi keberadaan PPHN, itu ibarat membuka kotak pandora. Bisa jadi, ada pasal-pasal penting lain yang ikut diubah," ujar Herdiansyah, Sabtu (23/8/2025).

Ia menilai, terdapat indikasi kuat bahwa dorongan penerbitan PPHN bukan semata soal pembangunan nasional, melainkan sebagai jalan masuk untuk mengembalikan kekuasaan besar kepada MPR, termasuk potensi pemilihan presiden oleh MPR seperti di masa lalu.

Langkah Mundur dari Semangat Reformasi

Herdiansyah menyebutkan, keberadaan Undang-Undang tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) sudah cukup untuk menjawab kebutuhan arah pembangunan nasional.

Presiden yang kini dipilih langsung oleh rakyat pun dinilai tidak lagi relevan untuk diikat oleh dokumen seperti PPHN yang lahir dari lembaga legislatif.

"Masyarakat memilih presiden berdasarkan visi-misi saat kampanye. Jika ada PPHN yang bertentangan, apakah presiden harus melanggarnya atau mengabaikan mandat rakyat?" ungkapnya.

Lebih jauh, Herdiansyah menilai bahwa gagasan menghidupkan kembali PPHN terkesan ahistoris dan bertentangan dengan nilai-nilai reformasi 1998.

"Ini justru langkah mundur. Seperti lagu Peterpan, kaki di kepala, kepala di kaki. Teman-teman di MPR lupa pada sejarah," tegasnya.

MPR Tegaskan Substansi PPHN Telah Disepakati

Di sisi lain, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menegaskan bahwa pembahasan substansi PPHN telah selesai.

Fokusnya mencakup pembangunan berkelanjutan, pembangunan SDM, dan penguatan sistem hukum.

Namun, format produk hukum untuk menetapkannya masih dalam tahap pembahasan.

Presiden Prabowo Subianto pun disebut telah memberikan pandangan mengenai arah pembangunan nasional, termasuk menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Meski begitu, sejumlah pengamat tetap menilai bahwa wacana PPHN, apalagi bila harus ditempuh melalui amandemen konstitusi, perlu dikaji secara hati-hati dan terbuka agar tidak mencederai sistem demokrasi yang telah dibangun sejak era reformasi.*

(bb/a008)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru