Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
Ia mengungkap, pada masa itu, untuk menjadi anggota TNI, Polri, PNS, bahkan pegawai swasta, seseorang harus memiliki latar belakang keluarga yang dianggap "bersih lingkungan."
"Artinya ada stigma dari penguasa terhadap rakyatnya sendiri.
Rakyatnya sendiri kok dimusuhi? Dampaknya lebih dari 100 juta rakyat kini hidup miskin. Itu bukan karena malas, tapi karena output dari kebijakan masa lampau," ungkapnya.Dalam konteks pemberantasan
korupsi, Saurip mendorong langkah radikal melalui pengesahan UU Perampasan Aset yang di dalamnya wajib menyertakan mekanisme pembuktian terbalik.
"Kalau mau serius perang melawan
korupsi, gampang. Terapkan pembuktian terbalik. Tapi harus jelas, jangan sampai pemerintah bersekongkol dengan pemilik aset di luar negeri. Perampasan tanpa putusan pengadilan itu berbahaya," tegasnya.Ia menekankan bahwa jika tidak hati-hati, UU ini justru bisa menjadi alat pemerasan baru oleh oknum penguasa.
Menurut Saurip, kemerdekaan Indonesia bukan hasil perebutan kekuasaan, melainkan hasil dari kontrak sosial antara rakyat dan negara, sebagaimana dikemukakan oleh John Locke dan Thomas Hobbes."Kalau kemerdekaan dianggap hasil rebutan, maka yang punya negara adalah penguasa.
Rakyat hanya penumpang. Itu tidak boleh," ujarnya.
Ia menyerukan agar birokrasi dibenahi total, termasuk mengubah mentalitas aparatur negara yang selama ini justru bertindak seperti majikan, bukan pelayan rakyat.
Tags
beritaTerkait
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.