Rismon Sianipar tampil sebagai saksi ahli dalam sidang gugatan ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) di Pengadilan Negeri Kota Solo, Rabu (18/2/2026). (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
"Bagaimana mungkin produk hand press yang dicetak satu per satu memiliki jarak antar huruf, antar kata, dan tinggi antar baris yang begitu konsisten dan tersentralisasi sempurna," ujarnya.
Analisis Rismon didasarkan pada foto resolusi tinggi yang diambil di ruang 109 Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 15 April 2025.
Dengan metode pattern recognition dan digital image processing, ia menyoroti keselarasan jarak antarhuruf dan tata letak teks yang dinilai menyerupai hasil pengolah kata modern, bukan hand press.
Ia bahkan melakukan rekonstruksi ulang teks menggunakan perangkat lunak tahun 2025, kemudian membandingkannya dengan dokumen asli.
Dengan metode overlay dan algoritma Scale-Invariant Feature Transform (SIFT) varian fuzzy transform, Rismon mengklaim menemukan 27 titik kunci yang sesuai, dengan tingkat kecocokan mencapai 89,92 persen.
"Apa yang saya amati menunjukkan teknologi yang jauh di atas tahun 1985," katanya.
Selain itu, Rismon menyoroti klaim efek cekungan pada kertas yang sering dijadikan bukti cetak manual.
Menurutnya, efek serupa bisa dibuat melalui digital embossing pada printer modern.
Ia juga mencatat tidak adanya tanda tangan penguji pada lembar pengesahan, yang menjadi salah satu poin keberatan dalam persidangan.
Meski begitu, Rismon menekankan akurasi analisisnya masih bisa lebih tinggi jika pihak universitas menyediakan data hasil pindai langsung dari dokumen asli.
Sidang gugatan ijazah ini masih berlanjut dengan pemeriksaan saksi ahli lain untuk mendalami bukti yang diajukan.*