Gelombang Protes Global Tuntut Elon Musk Mundur dari Posisi Kepala DOGE
- Minggu, 30 Maret 2025 11:56 WIB
Orang-orang melambaikan tangan dan melambaikan bendera dalam sebuah protes menentang Tesla dan Elon Musk di luar ruang pamer Tesla di University District, Seattle, Sabtu (29/3/2025).
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
Whasington dc -Gelombang protes besar-besaran mengguncang showroom Tesla di seluruh Amerika Serikat hingga Eropa pada Sabtu (29/3/2025).
Warga AS menggelar unjuk rasa dengan tuntutan agar Elon Musk, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Departemen Efisiensi Pemerintah (DOGE) dalam pemerintahan Donald Trump, mundur dari posisinya.
Ribuan orang berkumpul di depan 277 dealer dan pusat layanan Tesla di AS. Mereka menggelar protes dengan membawa spanduk bertuliskan "Lawan miliarder otoriter" dan "Klakson jika benci Elon," serta meneriakkan tuntutan agar Musk mengundurkan diri.
Di beberapa lokasi seperti New Jersey, Massachusetts, New York, Texas, dan lainnya, massa terus mendesak agar Musk mundur, menuntut transparansi dan akuntabilitas dari salah satu orang terkaya di dunia ini.
Tidak hanya di Amerika Serikat, protes juga merambah ke Eropa. Puluhan demonstran di London menggelar aksi serupa dengan membawa poster yang membandingkan Musk dengan diktator Nazi, Adolf Hitler.
Pengemudi mobil yang lewat membunyikan klakson mereka sebagai tanda dukungan terhadap gerakan ini.
Di tengah aksi yang berlangsung, beberapa figur publik dan politisi ikut menyuarakan protes.
Aktor John Cusack bergabung dengan seruan boikot terhadap Tesla, sementara anggota Kongres dari Partai Demokrat, Jasmine Crockett, mendorong para demonstran untuk terus memperjuangkan tujuan mereka. "Kalian harus terus berteriak di jalan," kata Crockett dalam sebuah pertemuan daring dengan para demonstran.
Tidak hanya itu, anggota Kongres lainnya dari Seattle, Pramila Jayapal, ikut terlibat dalam aksi di kotanya dan menyebut kepemimpinan Elon Musk di DOGE sebagai ancaman terhadap demokrasi.
Meski dimaksudkan untuk menjadi aksi damai, protes ini di beberapa lokasi berujung pada kericuhan. Di Watertown, Massachusetts, sebuah truk dilaporkan menabrak dua demonstran.
Polisi melaporkan bahwa tidak ada korban luka serius dalam insiden tersebut. Di Jerman barat laut, tujuh mobil Tesla juga dilaporkan terbakar dalam kejadian yang saat ini masih diselidiki oleh kepolisian setempat.
Jaksa Agung AS, Pam Bondi, mengecam aksi-aksi yang dianggapnya sebagai "terorisme domestik." Meski demikian, tokoh-tokoh gerakan Tesla Takedown menegaskan bahwa aksi mereka tetap harus dijaga dalam koridor damai, meskipun gelombang emosi di lapangan semakin sulit dikendalikan.
Sementara protes terus berlangsung, Elon Musk tampak tenang dan tidak terpengaruh. Dalam pertemuan bulanan perusahaan, Musk meyakinkan karyawan bahwa masa depan Tesla tetap cerah.
"Ada badai, tapi matahari akan bersinar kembali," ujar Musk, mengungkapkan prediksi optimis bahwa Tesla akan menjual lebih dari 10 juta mobil pada tahun depan, meningkat signifikan dari sekitar 7 juta mobil saat ini.
Namun, meskipun pernyataan Musk terdengar optimistis, kenyataan di pasar menunjukkan adanya tren penurunan. Penjualan Tesla di AS, Eropa, dan China mengalami pelambatan yang signifikan.
Saham Tesla yang sempat melonjak 70 persen setelah kemenangan Trump di pemilu kini kembali tergerus. Analis Wedbush Securities, Dan Ives, menyebutkan, "Ini momen nyata bagi Musk. Ia harus menemukan jalan keluar dari krisis ini atau Tesla akan terus terjebak dalam badai politik."
Protes besar-besaran yang disebut sebagai 'Tesla Takedown' kini menjadi sorotan utama baik di AS maupun Eropa.
Dengan semakin banyaknya suara yang menyerukan pengunduran diri Elon Musk, masa depan Tesla dan posisinya di pemerintahan Trump kian berada di ujung tanduk.
Aksi ini tidak hanya mencerminkan ketidakpuasan terhadap kebijakan Musk, tetapi juga menunjukkan ketegangan politik yang semakin memanas di seluruh dunia.*