Rico Waas Pimpin Apel Gabungan, Pastikan Medan Aman dan Tertib Saat Ramadan 1447 H
MEDAN Meski diguyur rintik hujan, jajaran Pemko Medan, TNI, dan Polri tetap semangat mengikuti apel gabungan pemantauan ketenteraman mas
PEMERINTAHAN
JAKARTA - Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Amerika Serikat terhadap situs nuklirnya mendapat sorotan keras dari berbagai pihak.
Meski parlemen Iran sudah menyetujui kemungkinan penutupan jalur vital tersebut, keputusan final masih bergantung pada Dewan Keamanan Nasional Iran.
Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur transit utama minyak dunia ini dikhawatirkan justru akan menjadi bumerang bagi Iran sendiri. Selain berpotensi merugikan negara-negara di kawasan Timur Tengah, langkah tersebut juga bisa memicu isolasi diplomatik dan kerugian ekonomi besar bagi Iran.
Menurut Vandana Hari, pendiri Vanda Insights, risiko terbesar adalah dimusuhinya Iran oleh negara tetangga yang juga penghasil minyak, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Qatar. Kelima negara tersebut secara kolektif mengirim jutaan barel minyak setiap harinya melalui Selat Hormuz.
Data Badan Informasi Energi AS menunjukkan Iran mengirim sekitar 1,5 juta barel minyak per hari melalui Selat Hormuz pada kuartal pertama 2025. Penutupan jalur ini juga akan berdampak langsung terhadap pasar minyak Iran di Asia, terutama China, pembeli terbesar minyak Iran.
"Keuntungan dari penutupan ini sangat kecil, sementara dampak negatif bagi Iran justru sangat besar," kata Vandana Hari.
Dukungan atas pendapat ini juga datang dari Andrew Bishop, Kepala Riset Kebijakan Global Signum Global Advisors, yang menilai Iran tidak akan mengambil risiko memusuhi China. Ia juga menambahkan bahwa gangguan pasokan minyak dapat menimbulkan serangan terhadap infrastruktur ekspor minyak maupun rezim Iran sendiri.
Sementara itu, Clayton Seigle dari Center for Strategic and International Studies menegaskan bahwa China sangat bergantung pada aliran minyak dari kawasan Teluk. Karena itu, kepentingan nasional China mendorong stabilisasi dan de-eskalasi situasi agar aliran minyak tetap aman.
Joint Maritime Information Center melaporkan belum ada indikasi ancaman nyata terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz, dengan kapal-kapal yang terkait AS masih dapat melintas tanpa gangguan.
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur laut tunggal dari Teluk Persia menuju laut lepas, dan sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Badan Informasi Energi AS menilai Selat Hormuz sebagai titik transit minyak paling penting di dunia.*
(d/j006)
MEDAN Meski diguyur rintik hujan, jajaran Pemko Medan, TNI, dan Polri tetap semangat mengikuti apel gabungan pemantauan ketenteraman mas
PEMERINTAHAN
JAKARTA Menjelang awal bulan suci, ucapan Marhaban Ya Ramadhan kerap terdengar di berbagai kesempatan, mulai dari percakapan keluarga,
AGAMA
WASHINGTON DC Presiden Prabowo Subianto menghadiri undangan Presiden Donald Trump untuk rapat Board of Peace (BoP), Dewan Perdamaian yan
PEMERINTAHAN
JAKARTA DPR RI menetapkan Ahmad Sahroni sebagai Wakil Ketua Komisi III DPR RI. Sahroni menggantikan posisi Rusdi Masse, yang resmi mengu
POLITIK
JAKARTA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada pembukaan perdagangan Kamis (19/2/2026), bergerak di zona hijau dengan level 8.3
EKONOMI
JAKARTA Bank Indonesia (BI) mencatat kenaikan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada Kuartal IV 2025. Nilainya mencapai 431,7 miliar dol
EKONOMI
JAKARTA Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengaku prihatin atas penurunan Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun 2025. Pern
POLITIK
MEDAN Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Sumatera Utara, Kahiyang Ayu, menyatakan dukungannya
PENDIDIKAN
WASHINGTON DC Presiden Prabowo Subianto mengundang pengusaha Amerika Serikat untuk berinvestasi di Indonesia dalam pertemuan Business Su
EKONOMI
JAKARTA Badan Narkotika Nasional (BNN) menyoroti maraknya penyalahgunaan gas dinitrous oxide (N2O), yang dikenal dengan sebutan Whip Pin
HUKUM DAN KRIMINAL