MEDAN – Pemerintah Portugal mengumumkan akan secara resmi mengakui kemerdekaan Palestina pada Minggu, 21 September 2025.
Pengakuan ini disampaikan menjelang Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang akan berlangsung pada 22–29 September mendatang.Dalam pernyataan resminya pada Jumat (19/9), Kementerian Luar Negeri Portugal menyebutkan bahwa langkah ini diambil setelah melalui proses konsultasi antara Perdana Menteri Luis Montenegro, Presiden Marcelo Rebelo de Sousa, dan parlemen.
"Pernyataan Pengakuan Resmi akan dilaksanakan pada Minggu, 21 September, sebelum Konferensi Tingkat Tinggi minggu depan," demikian bunyi pernyataan Kemlu Portugal, dikutip dari Al Jazeera.Langkah Portugal ini muncul di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Israel setelah laporan PBB yang secara tegas menyatakan bahwa negara tersebut telah melakukan genosida dalam agresinya di Jalur Gaza.
Laporan tersebut mencatat lebih dari 65.100 warga Palestina telah tewas, mayoritas di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.Portugal pertama kali menyatakan niat untuk mengakui negara Palestina pada 31 Juli lalu.
Pemerintah menyatakan keprihatinan mendalam terhadap eskalasi konflik yang semakin memburuk, serta potensi aneksasi wilayah Palestina oleh Israel.Selain Portugal, sejumlah negara seperti Prancis, Inggris, Australia, Malta, Kanada, dan Belgia juga menyatakan komitmennya untuk mengakui kemerdekaan Palestina pada momentum Sidang Umum PBB bulan ini.
Gelombang pengakuan ini menandai perubahan signifikan dalam peta diplomatik global terkait isu Palestina.Namun, langkah ini mendapat penolakan keras dari pemerintah Israel.
Tel Aviv dilaporkan mengancam akan mempercepat pencaplokan wilayah Tepi Barat jika negara-negara Barat melanjutkan pengakuan terhadap Palestina.Menanggapi ancaman Israel, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyerukan agar komunitas internasional tidak tunduk pada tekanan atau intimidasi.
"Kita tidak perlu merasa terintimidasi oleh risiko pembalasan," ujar Guterres, dikutip AFP pada Sabtu (20/9).
"Dengan atau tanpa langkah-langkah ini, tindakan (agresi Israel) akan tetap berlanjut. Setidaknya, kita memiliki peluang untuk memobilisasi tekanan internasional agar hal ini dihentikan."Guterres juga menyatakan keprihatinan mendalam atas kondisi kemanusiaan di Gaza, menyebutnya sebagai "tingkat kehancuran dan kematian terburuk" yang pernah ia saksikan selama menjabat sebagai Sekjen PBB.
"Penderitaan rakyat Palestina tak terlukiskan. Kelaparan, minimnya layanan kesehatan, dan kondisi pengungsian yang tidak layak menjadi kenyataan sehari-hari," tambahnya.Langkah Portugal dan negara-negara pendukung Palestina diperkirakan akan menjadi sorotan utama dalam Sidang Umum PBB pekan depan, di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat di Timur Tengah.*