BREAKING NEWS
Senin, 16 Maret 2026

Usai RI dan Nepal, Kini Filipina dan Peru Memanas! Bendera One Piece Berkibar

- Senin, 22 September 2025 11:49 WIB
Usai RI dan Nepal, Kini Filipina dan Peru Memanas! Bendera One Piece Berkibar
Demonstrasi yang terjadi di Filipina berujung rusuh. (Foto: The Inquerer)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung
JAKARTA – Gelombang unjuk rasa anti-pemerintah yang sebelumnya mengguncang Indonesia dan Nepal kini menyebar ke Filipina dan Peru.

Ribuan warga turun ke jalan memprotes dugaan korupsi, kejahatan terorganisir, dan kebijakan publik yang kontroversial.

Aksi-aksi ini menunjukkan meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintah di berbagai belahan dunia.

Baca Juga:
Filipina: Protes Skandal Infrastruktur Pengendalian Banjir

Ribuan warga Filipina turun ke jalan di Manila pada Minggu (21/9) untuk memprotes skandal proyek pengendalian banjir yang diduga fiktif dan merugikan negara hingga miliaran peso.

Demonstrasi yang semula berlangsung damai berubah ricuh ketika polisi anti huru-hara menyemprotkan meriam air, memicu bentrokan dengan kelompok demonstran bertopeng yang melempar batu dan merusak pos polisi.

Menurut laporan AFP, polisi menangkap 72 orang, termasuk 20 anak di bawah umur.

Bentrokan tersebut menyebabkan setidaknya 39 petugas terluka dan sebuah trailer barikade dibakar.

"Tidak jelas apakah mereka yang ditangkap adalah demonstran atau hanya orang-orang yang membuat onar," ujar Mayor Hazel Asilo, pejabat kepolisian setempat.

Demonstrasi ini juga melibatkan ribuan warga lainnya yang memadati jalan raya EDSA, tempat bersejarah yang pernah menjadi pusat gerakan rakyat menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos pada 1986, ayah dari Presiden Filipina saat ini, Bongbong Marcos.

"Sangat jarang saya pergi ke demonstrasi, tetapi situasi ini cukup buruk sehingga saya benar-benar didesak untuk mengatakan 'sudah cukup'," kata Mitzi Bajet, desainer berusia 30 tahun.

Ketua kelompok kiri Bagong Alyansang Makabayan, Teddy Casiño, menyebut aksi ini sebagai bentuk tuntutan publik terhadap pengembalian dana publik yang dikorupsi dan pemidanaan para pelaku.

Skandal ini mencuat setelah proyek infrastruktur pengendalian banjir dimasukkan ke dalam pidato kenegaraan Presiden Marcos pada Juli lalu.

Filipina memang rawan banjir besar, namun Departemen Keuangan memperkirakan kerugian ekonomi akibat korupsi proyek ini mencapai 118,5 miliar peso (Rp 34 triliun).

Greenpeace bahkan memperkirakan nilai kerugiannya bisa mencapai US$18 miliar (Rp 299 triliun).

Filipina sendiri memiliki sejarah panjang terkait korupsi dana publik.

Para politisi tinggi yang terlibat seringkali luput dari hukuman berat, menambah ketidakpercayaan masyarakat terhadap sistem hukum.

Peru: Demonstrasi Tolak Kejahatan Terorganisir dan Kebijakan Pensiun

Situasi serupa terjadi di Peru, di mana ratusan demonstran bentrok dengan polisi di ibu kota Lima pada Sabtu (20/9).

Aksi protes yang diorganisir oleh kelompok pemuda "Generasi Z" ini menyoroti memburuknya demokrasi, peningkatan kejahatan terorganisir, dan reformasi pensiun yang dianggap merugikan.

Demonstran melempar batu dan tongkat, sementara polisi merespons dengan gas air mata.

Bentrokan meletus ketika massa mencoba mendekati gedung eksekutif dan kongres.

Laporan stasiun radio Exitosa menyebutkan bahwa seorang reporter dan juru kamera terkena proyektil yang diduga berasal dari aparat.

Polisi menyatakan sedikitnya tiga petugas terluka, sementara total korban luka akibat bentrokan mencapai 18 orang menurut laporan AFP.

"Demokrasi sekarang lebih buruk daripada sebelumnya, karena ketakutan dan pemerasan," kata Gladys, seorang demonstran berusia 54 tahun.

"Kongres tidak memiliki kredibilitas... mereka mendatangkan malapetaka di negara ini," tambah Celene Amasifuen, pengunjuk rasa lainnya.

Unjuk rasa juga dipicu oleh kebijakan baru yang mewajibkan kaum muda bergabung dalam dana pensiun swasta, di tengah tingginya ketidakpastian dan ketidakamanan pekerjaan.

Presiden Peru Dina Boluarte, yang masa jabatannya akan berakhir tahun depan, tengah menghadapi tingkat kepuasan publik yang anjlok, di tengah berbagai tuduhan korupsi dan lemahnya penegakan hukum.

Simbol Perlawanan Global: Bendera One Piece Berkibar

Uniknya, dalam kedua aksi massa di Filipina dan Peru, demonstran mengibarkan bendera Jolly Roger dari serial anime Jepang One Piece.

Bendera berwarna hitam dengan tengkorak bertopi jerami itu kini muncul sebagai simbol perlawanan internasional.

Mengutip Philstar Global, bendera tersebut terlihat di antara poster-poster politik dan bendera nasional di Manila.

Fenomena yang sama juga terjadi di jalanan ibu kota Lima.

"Di antara poster-poster politik dan bendera nasional yang biasa terlihat di protes, muncul simbol tak terduga: bendera tengkorak tersenyum bertopi jerami dari anime One Piece, yang kini menjadi lambang global perjuangan melawan ketidakadilan," tulis media lokal.

Bendera ini sebelumnya juga terlihat di protes besar di Indonesia dan Nepal, yang pada awal September bahkan berujung pada kejatuhan pemerintahan.*

(cb/a008)

Editor
: Abyadi Siregar
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Ketua PN Banda Aceh Lantik Tiga Pejabat Kesekretariatan Baru, Dorong Pelayanan Publik Berkualitas
KSPI Tidak Setuju Kapolri Dicopot, Said Iqbal: Itu Hidden Agenda!
Diduga Jadi Korban Rekayasa Kasus Narkoba, Keluarga Rahmadi Minta Kapolri Turun Tangan
Kapolri Bentuk Tim Reformasi Internal Polri, Komjen Chryshnanda Ditunjuk Sebagai Ketua
Ribuan Buruh Kepung DPR Hari Ini, Tuntut Penghapusan Outsourcing hingga Kenaikan Upah
Anggota TNI Minta Maaf Usai Aniaya Pengemudi Ojol di Pontianak, Proses Hukum Tetap Berjalan
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru