BEIRUT – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya tidak menginginkan perang dengan Amerika Serikat maupun Israel, tetapi siap melakukan balasan jika diserang.
Pernyataan itu disampaikan Araghchi dalam kunjungan kenegaraan selama dua hari di Lebanon, Jumat (9/1/2026).
"Kami tidak ingin perang, tetapi kami siap untuk itu," kata Araghchi, dikutip Associated Press.
Ia menambahkan bahwa setiap serangan lanjutan oleh Washington atau Tel Aviv akan menghadapi kegagalan yang sama seperti serangan sebelumnya pada Juni tahun lalu.
Meski demikian, Araghchi menegaskan Iran tetap terbuka untuk negosiasi terkait program nuklir, asalkan dilakukan dengan rasa saling menghormati, bukan paksaan dari pihak lain.
"Negosiasi harus berdasarkan rasa saling menghormati dan kepentingan bersama. Hasil negosiasi yang konstruktif baru akan membuahkan solusi," ujarnya.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan berkelanjutan antara Teheran dan Washington.
Iran sendiri telah meningkatkan tingkat pengayaan uranium hingga 60 persen setelah AS menarik diri secara sepihak dari kesepakatan nuklir 2015.
Meski demikian, Teheran menegaskan program nuklirnya bersifat damai, meski badan pengawas PBB dan Barat mencurigai adanya potensi pengembangan senjata nuklir pada masa lalu.
Dengan situasi ini, Araghchi menyatakan Iran tetap mengutamakan diplomasi, namun menekankan bahwa segala bentuk agresi akan mendapatkan respons tegas.*