Menurut Medvedev, penghentian perjanjian itu bisa mempercepat simbolis "jam kiamat" yang menunjukkan kemungkinan bencana nuklir global.
Dalam wawancara dengan Reuters, Selasa (3/2/2026), Medvedev menegaskan, "Saya tidak ingin mengatakan bahwa ini (mengakhiri perjanjian) langsung berarti perang nuklir akan terjadi, tetapi hal ini tetap harus menjadi perhatian semua pihak."
Perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh Medvedev saat menjabat Presiden Rusia, dan bertujuan membatasi jumlah senjata nuklir strategis yang dimiliki kedua negara.
Kesepakatan tersebut dijadwalkan berakhir pada Kamis mendatang jika Moskow dan Washington tidak mencapai perpanjangan menit terakhir.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan kemungkinan membiarkan perjanjian berakhir, tanpa menerima tawaran Moskow untuk perpanjangan sukarela.
Trump juga sempat menyebut akan merundingkan perjanjian yang "lebih baik" di masa depan.
Medvedev menambahkan, "Waktu terus berjalan dan jelas harus dipercepat," merujuk pada jam kiamat simbolis yang menghitung risiko bencana buatan manusia. Selain itu, Washington mendorong China, pemilik persenjataan nuklir terbesar ketiga di dunia, untuk ikut serta dalam negosiasi pengendalian senjata, namun Beijing menolak.
Analisis pakar menyebut, berakhirnya New START berpotensi memicu perlombaan senjata baru, menambah ketegangan global, dan meningkatkan risiko kesalahan perhitungan strategis antara negara-negara pemilik nuklir utama.
Ancaman yang diperingatkan Medvedev menyoroti pentingnya diplomasi dan dialog terbuka dalam mencegah eskalasi konflik nuklir global, khususnya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Rusia.*
(d/dh)
Editor
: Adam
Medvedev Peringatkan Dunia: Berakhirnya Perjanjian Nuklir AS-Rusia Bisa Percepat Jam Kiamat