Di tengah kepemimpinannya yang kembali diperkuat, Kim Jong Un diprediksi akan mengubah kebijakan-kebijakan penting, terutama terkait hubungan Korea Utara dengan Korea Selatan.
Analisis dari Hong Min, seorang pakar di Institut Unifikasi Nasional Korea, mengatakan bahwa bahasa yang digunakan Kim Jong Un dalam pidatonya di parlemen bisa menjadi indikator kebijakan luar negerinya, khususnya mengenai "unifikasi" atau "persatuan Korea."
Salah satu isu utama yang kemungkinan akan dibahas adalah soal hubungan antar-Korea, termasuk masalah teritorial dan perairan yang menjadi sumber ketegangan selama ini.
Di sisi internasional, Presiden Rusia Vladimir Putin mengucapkan selamat kepada Kim Jong Un atas terpilihnya kembali.
Dalam pesan yang diposting melalui saluran Telegram Kremlin, Putin menyatakan harapannya untuk memperkuat kemitraan strategis antara Rusia dan Korea Utara.
"Rusia sangat menghargai kontribusi Anda dalam memperkuat hubungan persahabatan antara negara kita. Kami berharap dapat terus melanjutkan kerja sama erat demi kepentingan kedua negara," tulis Putin.
Hubungan bilateral antara Rusia dan Korea Utara memang semakin mendalam, terutama setelah penandatanganan perjanjian pertahanan bersama pada tahun 2024.
Selain itu, Korea Utara juga diketahui telah mengirimkan pasukan untuk mendukung Rusia dalam konflik yang sedang berlangsung di Ukraina.*