Menurut laporan yang diterbitkan oleh Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), pemilihan Kim Jong Un mencerminkan "kehendak dan keinginan bulat seluruh rakyat Korea Utara."
Majelis Rakyat Tertinggi DPRK mengesahkan kembali Kim sebagai pemimpin dengan hasil yang sangat tinggi, yaitu 99,9% suara mendukung, dengan hampir tidak ada penolakan.
Sebagai informasi, seluruh warga Korea Utara yang berusia 17 tahun ke atas diberi kesempatan untuk memberikan suara, dengan tingkat partisipasi yang mencapai 99,99%.
Pemilihan ini sekaligus mempertegas posisi Kim Jong Un sebagai penguasa generasi ketiga Korea Utara setelah ayahnya, Kim Jong Il, dan kakeknya, Kim Il Sung.
Sejak kematian ayahnya pada tahun 2011, Kim Jong Un telah memimpin negara yang dikenal dengan sistem totalitarian dan memiliki senjata nuklir ini.
"Pemilihan ini adalah acara yang sangat terencana dan hasilnya sudah dapat diprediksi," ujar Lee Ho-ryung, analis dari Institut Analisis Pertahanan Korea.
Lee menambahkan bahwa acara serupa telah sering diadakan oleh pemerintahan Kim Jong Un untuk menunjukkan legitimasi politik negara tersebut.
Meski diwarnai dengan kritik, upacara pemilihan tersebut dihadiri oleh ribuan pejabat tinggi DPRK dan dipenuhi dengan nuansa "kesadaran politik yang luar biasa" serta "antusiasme revolusioner," sebagaimana digambarkan dalam laporan KCNA.
Selain itu, foto-foto yang dirilis KCNA menunjukkan Kim Jong Un mengenakan setelan jas formal ala Barat, duduk di tengah panggung yang dihiasi patung-patung besar ayah dan kakeknya.
Di tengah kepemimpinannya yang kembali diperkuat, Kim Jong Un diprediksi akan mengubah kebijakan-kebijakan penting, terutama terkait hubungan Korea Utara dengan Korea Selatan.
Analisis dari Hong Min, seorang pakar di Institut Unifikasi Nasional Korea, mengatakan bahwa bahasa yang digunakan Kim Jong Un dalam pidatonya di parlemen bisa menjadi indikator kebijakan luar negerinya, khususnya mengenai "unifikasi" atau "persatuan Korea."
Salah satu isu utama yang kemungkinan akan dibahas adalah soal hubungan antar-Korea, termasuk masalah teritorial dan perairan yang menjadi sumber ketegangan selama ini.
Di sisi internasional, Presiden Rusia Vladimir Putin mengucapkan selamat kepada Kim Jong Un atas terpilihnya kembali.
Dalam pesan yang diposting melalui saluran Telegram Kremlin, Putin menyatakan harapannya untuk memperkuat kemitraan strategis antara Rusia dan Korea Utara.
"Rusia sangat menghargai kontribusi Anda dalam memperkuat hubungan persahabatan antara negara kita. Kami berharap dapat terus melanjutkan kerja sama erat demi kepentingan kedua negara," tulis Putin.
Hubungan bilateral antara Rusia dan Korea Utara memang semakin mendalam, terutama setelah penandatanganan perjanjian pertahanan bersama pada tahun 2024.
Selain itu, Korea Utara juga diketahui telah mengirimkan pasukan untuk mendukung Rusia dalam konflik yang sedang berlangsung di Ukraina.*