Dalam studi ini, peneliti menganalisis data dari 200 negara dan wilayah, menggunakan sampel urin untuk melacak paparan DEHP dan mengaitkannya dengan data kematian dari Institute for Health Metrics and Evaluation. Afrika tercatat menyumbang 30% kematian akibat penyakit jantung terkait DEHP, disusul Asia Timur dan Timur Tengah dengan 25%.
"Ini adalah estimasi global pertama tentang dampak kesehatan dari paparan ftalat," ujar Sara Hyman, penulis utama studi dan ilmuwan di NYU Grossman School of Medicine.
Paparan Tak Terhindarkan
Menurut CDC AS, manusia bisa terpapar ftalat melalui udara, makanan, atau minuman yang telah bersentuhan dengan plastik. Sayangnya, karena ftalat digunakan luas di berbagai industri—dari makanan, furnitur, hingga kosmetik—paparan sehari-hari menjadi hampir tak terhindarkan.
Namun, para peneliti menyadari adanya keterbatasan metodologis dalam studi ini, salah satunya adalah penggunaan rasio bahaya dari populasi AS untuk memperkirakan dampak global.
Meski demikian, para ahli sepakat bahwa ini adalah langkah penting dalam meningkatkan kesadaran terhadap bahaya bahan kimia sintetis dalam kehidupan sehari-hari.*