BREAKING NEWS
Minggu, 23 Agustus 2026

6,7 Juta Orang di Indonesia Terinfeksi Hepatitis B, Kenali Cara Penularan dan Pencegahannya!

Johan - Sabtu, 22 Agustus 2026 22:18 WIB
6,7 Juta Orang di Indonesia Terinfeksi Hepatitis B, Kenali Cara Penularan dan Pencegahannya!
Ilustrasi. (foto: Dok. RS Pusat Pertamina)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

YOGYAKARTA — Sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia diperkirakan terinfeksi hepatitis B, sementara sekitar 2,5 juta lainnya terinfeksi hepatitis C.

Dua jenis hepatitis tersebut berpotensi berkembang menjadi infeksi kronis hingga kanker hati.

Meski hepatitis sudah cukup dikenal masyarakat, penyakit ini masih sering disalahpahami.

Baca Juga:

Hepatitis kerap dikaitkan hanya dengan kondisi kulit dan mata yang menguning.

Padahal, hepatitis merupakan peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

Hal tersebut dibahas dalam podcast TropmedTalk bertajuk "Hepatitis: Sering Didengar, Tapi Masih Sering Disalahpahami?" yang diselenggarakan Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM dalam rangka memperingati Hari Hepatitis Sedunia.

Hepatitis Memiliki Banyak Penyebab

Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, dr. Fahmi Indrarti, Sp.PD-KGEH, menjelaskan hepatitis paling banyak disebabkan oleh infeksi virus.


Namun, hepatitis juga dapat dipicu oleh sejumlah faktor lain, seperti konsumsi alkohol, obesitas, obat-obatan, hingga makanan yang tidak terjaga kebersihannya.

Menurut Fahmi, virus hepatitis terdiri atas hepatitis A, B, C, D, dan E. Masing-masing memiliki cara penularan yang berbeda.

Hepatitis A dan E, misalnya, dapat menular melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi.

Sementara hepatitis B dan C menular melalui cairan tubuh, termasuk paparan darah.

Adapun hepatitis D hanya dapat menginfeksi orang yang sebelumnya telah mengalami hepatitis B. Infeksi hepatitis D juga dapat memperberat kondisi penyakit tersebut.

"Yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah yang B dan C," ungkap dr. Fahmi, dikutip dari laman UGM.

Hepatitis B dan C Tidak Menular Lewat Makan Bersama

Fahmi juga meluruskan anggapan yang masih berkembang di masyarakat mengenai penularan hepatitis B dan C.

Menurut dia, kedua jenis hepatitis tersebut tidak menular hanya karena makan bersama atau melakukan kontak sosial biasa.

Ia mengatakan penderita hepatitis tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dan tidak seharusnya dijauhi.

"Hepatitis juga tidak hanya menyerang orang dengan gaya hidup tidak sehat, tetapi juga dapat dialami siapa saja, termasuk bayi yang tertular dari ibunya atau seseorang yang terpapar darah dan peralatan tidak steril," imbuhnya.

Karena itu, pemahaman mengenai cara penularan hepatitis menjadi penting agar masyarakat tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan penyakit tersebut.

Hepatitis B dan C Berisiko Menjadi Kanker Hati

Dari berbagai jenis hepatitis, hepatitis B dan C menjadi perhatian utama karena dapat berkembang menjadi infeksi kronis.

Dalam kondisi tertentu, infeksi tersebut juga dapat meningkatkan risiko kanker hati.

Diperkirakan sekitar 6,7 juta penduduk Indonesia terinfeksi hepatitis B, sedangkan 2,5 juta orang terinfeksi hepatitis C.

"Keduanya bisa menyebabkan angka kematian yang tinggi," lanjut Fahmi.

Besarnya jumlah penderita membuat pencegahan dan deteksi dini menjadi bagian penting dalam upaya mengendalikan hepatitis di Indonesia.

Cara Mencegah Hepatitis

Pencegahan hepatitis perlu dilakukan sesuai dengan cara penularannya.

Hepatitis A dan E dapat dicegah dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, terutama menjaga kebersihan makanan dan minuman.

Sementara untuk hepatitis B dan C, masyarakat dianjurkan menghindari penggunaan jarum suntik secara bersama-sama.

Penggunaan sikat gigi, alat cukur, dan gunting kuku juga sebaiknya tidak dilakukan secara bergantian.

Tindakan medis maupun prosedur seperti tindik dan tato harus menggunakan peralatan yang steril untuk mencegah paparan darah yang terkontaminasi.

Hepatitis B juga dapat dicegah melalui vaksinasi, terutama pada bayi baru lahir dan kelompok orang dewasa yang memiliki risiko tinggi.

Vaksin hepatitis B hanya memberikan perlindungan terhadap hepatitis B.

Namun, perlindungan tersebut juga secara tidak langsung mencegah hepatitis D karena virus hepatitis D membutuhkan hepatitis B untuk menginfeksi seseorang.

"Sedangkan hingga saat ini, vaksin hepatitis C belum tersedia sehingga pencegahannya berfokus pada upaya menghindari paparan darah yang terinfeksi," ujarnya.

Peluang Kesembuhan Berbeda

Peluang kesembuhan hepatitis berbeda-beda tergantung jenis dan kondisi penyakit.

Hepatitis A dan E umumnya dapat sembuh dengan sendirinya apabila tidak disertai kondisi yang memperberat penyakit hati.

Sementara hepatitis C saat ini memiliki peluang kesembuhan yang tinggi melalui pengobatan.

Lebih dari 95 persen kasus hepatitis C dapat disembuhkan dengan pengobatan, terutama apabila ditangani sejak dini.

"Sedangkan hepatitis B dan D kronis pengobatannya cukup lama dan pengobatannya harus dilakukan sesuai dengan panduan dan pengawasan yang ketat," ungkapnya.

Kenali Gejala Hepatitis

Masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sejumlah gejala, antara lain kulit dan mata menguning, urine berwarna pekat seperti teh, perut membesar, muntah darah, buang air besar berwarna hitam, atau penurunan kesadaran.

Pemeriksaan juga penting dipertimbangkan oleh orang yang memiliki faktor risiko meskipun tidak merasakan gejala.

Sebab, hepatitis dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas sehingga seseorang bisa tidak menyadari dirinya telah terinfeksi.

Melalui podcast TropmedTalk, PKT UGM mengajak masyarakat memahami hepatitis berdasarkan informasi yang benar.

Pencegahan juga perlu dilakukan sesuai jalur penularannya, disertai deteksi dini dan pengobatan yang tepat.

"Dengan deteksi dini, vaksinasi, pengobatan yang tepat, dan meningkatnya kesadaran masyarakat, upaya eliminasi hepatitis di Indonesia diharapkan dapat semakin dipercepat," pungkas Fahmi.* (km/ad)

Editor
: Mass Arie
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Karhutla Kalimantan Mengganas, WFH hingga Pengurangan Jam Kerja Dinilai Bisa Jadi Opsi Lindungi Pekerja dari Asap
Kabut Asap Karhutla Kalimantan Terbang ke Malaysia, 591 Sekolah Sarawak Terpaksa Ditutup
Sempat Dinyatakan Sembuh, Pelajar Korban Dugaan Keracunan MBG di Karo Kembali Kejang
200 Warga Meranti Ikuti Skrining TBC Terintegrasi CKG, 140 Jalani Rontgen
Sepekan Berlalu, 15 Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di Berastagi Masih Dirawat
Tangis Ibu Korban MBG Berastagi Pecah di Hadapan Kepala BGN: Apa Sebenarnya Racun yang Dimakan Anak Saya?
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru
"Sihir Politik" Jokowi

"Sihir Politik" Jokowi

OlehFirdaus ArifinADA politisi yang kekuasaannya berakhir bersamaan dengan berakhirnya jabatan. Begitu kendaraan dinas dikembalikan, pengaw

OPINI