BREAKING NEWS
Sabtu, 13 Juni 2026

Presiden Prabowo Akan Hadiri May Day 2025, KSPI Desak Cabut Sistem Outsourcing

- Kamis, 24 April 2025 16:17 WIB
Presiden Prabowo Akan Hadiri May Day 2025, KSPI Desak Cabut Sistem Outsourcing
Ilustrasi May Day
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

JAKARTA -Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan hadir langsung dalam perayaan Hari Buruh Internasional (May Day) 2025 yang akan digelar di kawasan Monas, Jakarta Pusat, pada 1 Mei 2025 mendatang.

Kehadiran ini disebut sebagai momen bersejarah oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal.

"Ini menjadi momen bersejarah, di mana Prabowo adalah presiden kedua setelah Soekarno yang hadir secara langsung dalam perayaan May Day. Kala itu, Presiden Soekarno hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno," ujar Said Iqbal di Jakarta, Kamis (24/4).

Dalam kesempatan tersebut, KSPI menyampaikan harapan besar kepada Presiden Prabowo untuk mencabut sistem outsourcing sebagai bentuk "kado" bagi buruh Indonesia.

"Kami berharap May Day 2025 menjadi kado bagi buruh. Dulu, Presiden SBY memberi hadiah dengan menjadikan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Kini kami berharap, Presiden Prabowo memberi hadiah dengan menghapus sistem outsourcing," tegas Iqbal.

Perayaan May Day tahun ini akan mengusung enam tuntutan utama buruh, antara lain:

Penghapusan sistem outsourcing

Pembentukan Satgas PHK

Upah layak dan perlindungan kesejahteraan

Pengesahan RUU Ketenagakerjaan yang pro buruh

Pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (RUU PPRT)

Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai bentuk pemberantasan korupsi

KSPI menekankan pentingnya RUU PPRT disahkan karena sudah masuk dalam Prolegnas, dan RUU Perampasan Aset dianggap sebagai upaya nyata membasmi korupsi, termasuk dengan mekanisme pembuktian terbalik.

Diperkirakan sekitar 200.000 buruh akan hadir di Monas, sementara lebih dari 1 juta buruh lainnya akan merayakan May Day di berbagai daerah di Indonesia.

"Harapan kami, kehadiran Presiden bukan sekadar simbolik politik, tapi menjadi penanda awal dari perubahan konkret bagi kehidupan buruh di Indonesia," tutup Iqbal.*

(md/J006)

Editor
:
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru