JAKARTA -Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memprediksi nilai tukar rupiah berpotensi melemah dalam waktu dekat. Hal ini dipicu oleh ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, yang kembali menebar ancaman tarif tinggi terhadap berbagai produk impor.
"Presiden AS Donald Trump menyatakan akan mengenakan tarif 50 persen untuk produk tembaga dan tarif 200 persen untuk perusahaan farmasi jika mereka tidak memindahkan produksinya ke AS," ujar Josua, Kamis (10/7).
Trump menyebut, tarif 50 persen untuk impor tembaga akan berlaku mulai 1 Agustus 2025. Langkah ini, menurut Trump, untuk memperkuat keamanan nasional AS karena tembaga merupakan bahan vital dalam berbagai industri strategis seperti semikonduktor, amunisi, radar, sistem rudal, hingga senjata hipersonik.
Kebijakan Tarif AS Meningkatkan Ketidakpastian Global
Tarif 200 persen terhadap produk farmasi buatan luar negeri juga akan diberlakukan, meskipun belum dalam waktu dekat. Tujuannya adalah mendorong relokasi industri farmasi kembali ke dalam negeri AS.
"Trump juga menyatakan tidak akan menunda penerapan tarif tersebut. Pernyataan ini semakin meningkatkan ketidakpastian mengenai arah kebijakan perdagangan AS," kata Josua.
Trump bahkan menyebut dalam pernyataan resminya di media sosial bahwa tidak akan ada perpanjangan waktu untuk implementasi kebijakan tarif tersebut.