JAKARTA — Polri mengerahkan kekuatan besar untuk percepatan penanganan bencana alam yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Total 497 personel dari berbagai satuan, termasuk Brimob, Sabhara, DVI, tim trauma healing, dan unit K9, diterjunkan dengan logistik lengkap untuk mendukung evakuasi korban dan pemulihan wilayah terdampak.
Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo menekankan pentingnya disiplin, koordinasi lintas fungsi, dan kecepatan dalam operasi kemanusiaan ini.
"Setiap personel harus memahami tugas dan tanggung jawabnya. Operasi ini harus dilakukan cepat, sinergis, dan gotong royong di semua lini," ujarnya.
Distribusi Pasukan dan Logistik
Penggelaran pasukan dilakukan melalui Terminal APK Bandara Soekarno-Hatta pada pukul 14.00 WIB, dengan tiga sektor utama:
Brimob 100 personel ke Kuala Namu kemudian ke Sibolga.
Sabhara 100 personel via Kuala Namu menuju Silangit.
Brimob 100 personel ke Sumatera Barat melalui Bandara Minangkabau.
Sisa 100 Brimob disiapkan sebagai pasukan rotasi dan cadangan untuk penguatan lanjutan.
Logistik yang dikirim mencakup 600 dus makanan siap saji, tenda lapangan, alat kesehatan, thermal gear, dan perlengkapan portable untuk wilayah sulit dijangkau.
Kabag Penum Divhumas Polri, Kombes Pol. Erdi A. Chaniago, menegaskan bahwa distribusi dilakukan secara berlapis untuk memastikan efektivitas, sekaligus menembus wilayah terisolir.
"Tujuannya jelas mempercepat penanganan, menembus wilayah terisolir, dan memastikan bantuan benar-benar sampai ke masyarakat," ujar Erdi.
Komando Lapangan
Pengawasan operasi dibagi ke sektor strategis:
Sumatera Utara: Kombes Pol. Monang
Sumatera Barat: AKBP Hendrick Situmorang
Cadangan Strategi: Kombes Pol. Aditya
Unsur pengendali Baharkam diperkuat dengan penempatan KBP Gattot Aris Purbaya di Sumut, KBP Gun Heriadi di Aceh, dan KBP Slamet Hernawan di Sumbar.
Dengan penguatan pasukan dan logistik ini, Polri menegaskan kesiapan penuh dalam memperluas operasi kemanusiaan, mempercepat evakuasi korban, serta meningkatkan dukungan logistik bagi masyarakat terdampak bencana.
Perkembangan operasi akan dirilis secara rutin agar masyarakat menerima informasi cepat, akurat, dan terpercaya.*