JAKARTA - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan tragedi bunuh diri siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur akibat keterbatasan biaya pendidikan tidak boleh kembali terulang.
Ia menyebut peristiwa tersebut sebagai alarm keras bagi negara dan dunia pendidikan nasional.
Pernyataan itu disampaikan Lalu merespons kematian siswa berinisial YBS (10), warga Kabupaten Ngada, NTT, yang diduga mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan alat tulis sekolah.
"Tidak boleh kejadian ini terus berulang, sehingga seolah-olah negara tidak hadir. Padahal, sebetulnya negara sudah hadir," ujar Lalu di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menilai, peristiwa tersebut menjadi tamparan serius di tengah upaya pemerintah membenahi sektor pendidikan.
Ia menyebut, Presiden Prabowo Subianto telah menggulirkan berbagai program pendidikan, namun implementasinya di lapangan perlu diawasi secara ketat.
Menurut Lalu, kasus ini menunjukkan bahwa pendidikan wajib belum sepenuhnya menjamin perlindungan bagi anak-anak dari keluarga miskin.
Ia meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah segera mengambil langkah konkret agar siswa tidak terbebani persoalan ekonomi.
"Siswa tidak boleh terbebani hanya karena orang tuanya tidak mampu secara ekonomi," kata dia.
Lalu juga mendorong evaluasi menyeluruh terhadap penyaluran Bantuan Operasional Sekolah (BOS).
Ia mempertanyakan apakah dana BOS telah tersalurkan dengan baik atau justru tidak menjangkau siswa yang paling membutuhkan.
"Ini harus dievaluasi bersama. Apakah sekolah belum menerima dana BOS, atau ada masalah dalam penyalurannya," ujarnya.