Ia menegaskan bahwa baik dalam konteks kewargaan maupun pemerintahan, elite bangsa harus menghindari tindakan yang bisa memperkeruh suasana di tengah masyarakat.
"Tidak perlu kita mempertajam perbedaan, apalagi mencari pembenaran diri dengan menyalahkan pihak lain," ujar Haedar.
Haedar menambahkan bahwa Idul Fitri seharusnya dijalani dengan penuh kekhusyukan dalam beribadah, serta kejernihan jiwa dan pikiran.
Ia juga mengajak umat Islam, baik yang merayakan pada 20 Maret maupun 21 Maret, untuk tidak terjebak dalam perbedaan yang bisa meretakkan persatuan.
"Jalani Idul Fitri dengan khusyuk, agar kita tidak terjebak dalam hasrat perbedaan yang justru meretakkan persatuan," katanya.
Lebih lanjut, Haedar optimistis bahwa Indonesia sebagai bangsa yang telah matang dalam berdemokrasi, akan mampu menyikapi perbedaan penetapan hari raya dengan kepala dingin tanpa menimbulkan konflik.
Ia menegaskan bahwa kedewasaan bangsa Indonesia akan mengarahkan masyarakat untuk menghargai perbedaan tersebut sebagai bagian dari keberagaman yang harus dijaga.
Haedar Nashir juga menyampaikan harapannya agar dunia Islam ke depan dapat memiliki kalender global tunggal.
Menurutnya, hal ini akan membantu meminimalisasi perbedaan penetapan hari besar keagamaan, khususnya Idul Fitri.