Keputusan ini diambil buntut dari kegagalan TimnasIndonesia di putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia, di mana Skuad Garuda kalah dari Arab Saudi (2-3) dan Irak (0-1) di Grup B, sehingga gagal melaju ke Piala Dunia 2026.
Kekosongan pelatih menimbulkan banyak spekulasi mengenai siapa yang akan menakhodai tim nasional.
"Untuk tim nasional, kalau enggak perform ya gitu. Walaupun secara pribadi saya kurang begitu suka, membangun strata kepelatihan itu perlu waktu," kata Erick, Jumat (24/10/2025).
Ia menambahkan, selama kepemimpinan Shin Tae-yong dan Indra Sjafri, komunikasi di antara pelatih senior tidak mudah, sehingga keselarasan tim sempat sulit terwujud.
"Nah, baru terakhir zamannya Patrick (Kluivert), kita bisa bikin strata. Tapi itupun karena gagal ya, ya bagaimana," ujar Erick.
Mengenai siapa yang akan menempati posisi pelatih kepala, Erick mengaku belum bisa memberikan kepastian.
"Kalau ditanya pusing? Pusing. Ini kan (pelatih) hilang, senior, U-23, U-20. Kalau ditanya 'kapan kita pengumuman pelatih baru?' belum. Saya masih perlu waktu, konsolidasi, dua hal," jelas mantan pemilik Inter Milan ini.
Meski Shin Tae-yong terbuka untuk kembali melatih TimnasIndonesia, Erick menekankan bahwa masyarakat dan suporter harus bisa melupakan masa lalu.
"Kita kan harus move on. Kita kan juga move on dari Shin Tae-yong," tegasnya.
Shin Tae-yong sendiri sempat menyatakan, Indonesia tetap menjadi pilihan utama jika PSSI menunjukkan niat sungguh-sungguh untuk mendatangkannya kembali.
"Hati saya akan tetap condong ke Indonesia. Bahkan kalau ada tawaran sedikit lebih baik dari negara lain, tetapi Indonesia menawar dengan niat sungguh-sungguh, Indonesia akan selalu jadi pilihan pertama saya," kata Shin.
Hingga kini, PSSI masih menimbang berbagai opsi sebelum menunjuk pelatih baru, dengan fokus pada pembangunan tim yang berkesinambungan di semua level.*