BREAKING NEWS
Sabtu, 05 September 2026

Lawan Penggusuran: Suara Punk dari Reruntuhan Kota

- Sabtu, 07 Juni 2025 19:06 WIB
Lawan Penggusuran: Suara Punk dari Reruntuhan Kota
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Tanpa dialog, warga lama dipaksa pergi, dan kota "dirapikan" untuk mereka yang mampu membeli ruang. Nama jalan diganti, mural rakyat dihapus, dan harga sewa melonjak. Semuanya atas nama pembangunan, tapi hakikatnya adalah kolonialisasi ulang.

Di Jakarta, Bandung, Surabaya, hingga Makassar, kawasan-kawasan "kumuh" dibersihkan, bukan diperbaiki. Di Yogya, warga kampung urban ditekan oleh proyek hotel dan properti. Di Kalijodo, sejarah komunitas disapu bersih demi taman. Ini bukan penataan kota. Ini perampasan kota.

Kini kekerasan penggusuran mendapat legitimasi tertinggi: Proyek Strategis Nasional (PSN). Jalan tol, pelabuhan, kereta cepat, kawasan industri—semuanya masuk dalam daftar mulia itu.

Tapi di balik nama-nama mentereng, kita temukan jejak tangis warga, sawah yang hilang, dan komunitas yang tercerai.

PSN adalah wajah baru dari developmentalism ala Orde Baru yang kini dibungkus jargon modernisasi. Tidak ada ruang bagi warga untuk membentuk masa depannya sendiri, karena semuanya telah dirancang dari pusat, dari ruang rapat, bukan dari realitas tanah yang diinjak rakyat. PSN menjanjikan pertumbuhan ekonomi, tapi menanamkan luka sosial. Ia seperti pisau yang diasah dari dua sisi: satu untuk investasi, satu lagi untuk menggusur.

Apa yang terjadi di Medan dan kota-kota lain di Indonesia sebetulnya adalah gema dari krisis global. Di Rio de Janeiro, ribuan warga miskin digusur demi Olimpiade dan Piala Dunia. Di Delhi, pemukiman kumuh dibuldoser tanpa pemberitahuan demi ruang hijau dan jalur metro. Di Manila, ratusan ribu keluarga dipindahkan paksa ke "relocation sites" yang jauh dari pekerjaan dan sekolah.

Di semua tempat itu, gentrifikasi dan proyek infrastruktur bekerja seperti mesin besar: menggiling mereka yang lemah untuk menghasilkan citra kemajuan.

Namun di semua kota itu pula, kita temui musik sebagai perlawanan. Dari punk favelado di Brasil hingga rap komuniti di Filipina, suara-suara bawah tanah menolak menjadi bisu.

Punk Indonesia—dari Aceh hingga Papua—adalah bagian dari tradisi global itu: menolak penindasan dengan amplifikasi gitar dan lirik-lirik yang menyayat.

"Jadi Pengungsi di Negeri Sendiri": Menolak Lupa dan Diam

Menurut Jovan Siahaan, sebelum album ini diluncurkan, akan digelar sesi diskusi dengan tema "Jadi Pengungsi di Negeri Sendiri", bersama narasumber dari LBH dan KontraS—dua lembaga yang selama ini berdiri di sisi warga terpinggirkan.

Editor
:
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru