BREAKING NEWS
Kamis, 05 Maret 2026

Pemimpin Bukan Malaikat: Saatnya Masyarakat dan Politisi Belajar Dewasa

Redaksi - Jumat, 12 September 2025 07:42 WIB
Pemimpin Bukan Malaikat: Saatnya Masyarakat dan Politisi Belajar Dewasa
Presiden RI Prabowo Subianto saat meninjau sekolah rakyat menengah atas margaguna, Jaksel, Kamis (11/9/2025). (foto: tangkapan layar yt setpres)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

- Rendah hati untuk mendengar kritik,

- Konsisten menjaga integritas, dan

- Berani mengambil keputusan meski tidak populer.

Moral politik mengajarkan bahwa yang kita perlukan bukan kesempurnaan, melainkan kejujuran dan niat tulus. Seorang pemimpin yang salah tetapi mau mengakui dan memperbaiki diri, jauh lebih mulia daripada pemimpin yang pandai menutupi kekeliruan.

Belajar Dewasa: Tugas Politisi dan Masyarakat

Politik adalah seni kemungkinan, bukan seni kesempurnaan. Reshuffle kabinet, misalnya, tidak pernah bisa menyenangkan semua pihak. Ada pertimbangan partai, ada kalkulasi kinerja, ada tekanan global. Politisi yang dewasa paham bahwa setiap keputusan punya harga, punya risiko, dan tidak semua bisa dijelaskan ke publik secara terbuka.

Sementara masyarakat yang dewasa seharusnya berhenti mencari malaikat dalam politik. Yang perlu dilakukan adalah mengawal, mengawasi, dan memberi masukan konstruktif. Demokrasi sehat lahir bukan dari hujatan, tetapi dari dialog kritis yang rasional dan bermoral.

Dari sisi moralitas bangsa, kedewasaan berarti berani menahan diri dari sikap apriori, dan mengubah energi kritik menjadi energi solusi. Dengan begitu, kita tidak sekadar menjadi pengamat, tetapi ikut bertanggung jawab membangun negeri.

Penutup: Politik yang Membawa Harapan

Pemimpin bukan malaikat. Mereka adalah manusia dengan segala keterbatasan. Namun, justru di situlah nilai perjuangan: bagaimana di tengah kekurangan, mereka tetap berusaha memberi yang terbaik.

Bagi akademisi, ini panggilan untuk memperkuat literasi politik agar publik tidak mudah terjebak pada emosionalitas. Bagi politisi, ini pengingat bahwa jabatan adalah amanah, bukan panggung pribadi.

Bagi kader partai, ini saatnya mengusung gagasan, bukan sekadar kursi.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru