Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026), usai menandatangani Dewan Perdamaian atau Board of Peace Charter yang diinisiasi oleh Presiden AS, Donald Trump.(Foto: Sekretariat Presiden RI)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
*PERDEBATAN polemik keputusan Presiden Prabowo yang membawa Indonesia berhimpun dalam meja perundingan Board of Peace (BoP) tidak bijak jika kita berhenti sekedar pada konklusi 'setuju atau menolak'.
Karena Palestina khususnya Gaza, serta Timur Tengah secara keseluruhan, adalah ruang kajian yang mengandung banyak kompleksitas untuk sekedar dibaca dengan sudut pandang moral yang tunggal.
Ketimbang kita bersepakat atau menolak, lebih baik putusan diplomasi ini kita uji, namun sebagai sebuah tindakan, keberanian Indonesia hadir, menggambarkan kemampuan Indonesia membaca medan konflik, dan mengembangkan aneka kemungkinan-kemungkinan menjaga stabilitas perdamaian, Khususnya perdamaian di timur tengah yang penuh lapisan kuasa, sejarah kolonial, dan perang proxy global.
Secara historis, suka atau tidak suka, Timur Tengah bukan sekadar kawasan konflik antarnegara, melainkan sebuah proxy, arena persilangan aneka kepentingan global.
Dan percaya atau tidak, hampir tidak ditemukan konflik di kawasan ini yang murni bersifat lokal.
Palestina, Israel, Suriah, Yaman, Lebanon, UEA hingga Irak selalu melibatkan proxy actors yang ikut sponsori negara-negara besar, aliansi regional, milisi ideologis, hingga tentu ada yang menargetkan sumberdaya ekonomi dan energi sebagai salah satu kepentingan.
Dalam kondisi kompleks ini, perlu difahami konflik kadang tidak benar-benar ingin diakhiri, bisa jadi yang terjadi adalah dikelola, dibekukan, atau distabilkan.
Maka di tengah konflik Panjang dengan aneka resolusi yang telah diupayakan selama ini (PBB, Pertemuan Regional, sidang-sidang Panjang), yang telah diupayakan namun tidak mencapai stabilitas.
Kenapa tidak kita apresiasi upaya baru? Meski upaya itu belum bisa kita prediksi ke depan, namun dengan adanya gagasan rekonstruksi Gaza contohnya, kenapa tidak dilihat upaya ini sebagai tindakan yang progresif melampaui forum diskusi tapi forum aksi?
Selain faktor geopolitik global, geopolitik dan geostrategi Kawasan Timur Tengah, kita tahu bersama memiliki dimensi yang berbasis kuatnya identitas suku, sektarianisme, dan ego politik yang berakar panjang.
Loyalitas tidak selalu untuk membangun negara-bangsa modern, tetapi pada garis etnis, agama, mazhab dalam agama, dan ingatan kolektif yang saling bertabrakan, dimana masa lalu kadang belum dilupakan, seperti di Prancis meninggalkan dendam masa lalu, kemudian membangun tatanan baru, di timur tengah Masa lalu kadang jadi alat membunuh masa depan.