BREAKING NEWS
Senin, 23 Maret 2026

Diplomasi Jalan Tengah Indonesia di Board of Peace

BITV Admin - Minggu, 01 Februari 2026 11:09 WIB
Diplomasi Jalan Tengah Indonesia di Board of Peace
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026), usai menandatangani Dewan Perdamaian atau Board of Peace Charter yang diinisiasi oleh Presiden AS, Donald Trump.(Foto: Sekretariat Presiden RI)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Diplomasi kita haruslah berdiri di jalan tengah, keterlibatan Indonesia di BoP harus bersifat bersyarat.

Keaktifan kita adalah secara kritis seperti mazhab politik luar negeri yang bebas aktif. Di mana kita hadir tetapi tidak larut dan penuh kewaspadaan. Terlibat, tetapi tidak tunduk dan penuh kepekaan.

Indonesia harus memaksimalkan forum BoP untuk terus menekan isu krusial khususnya penghentian pendudukan, keadilan bagi korban, dan pengakuan penuh terhadap kedaulatan Palestina.

Dan saya sepakat, Indonesia harus berani menjadi disturbing voice di dalam forum, bukan sekadar consensus taker.

Karena dukungan kita pada Board of Peace adalah dukungan bersyarat, maka jika forum ini bertransformasi sekadar menjadi alat pengelolaan konflik tanpa keadilan atau bahkan amit-amit menjadi legitimasi baru bagi penindasan, maka konsistensi politik luar negeri bebas aktif kita diperlukan untuk bersikap korektif.

Termasuk, jika harus mengambil jarak atau keluar dari forum tersebut.

Dalam konteks Timur Tengah yang sudah kita bahas di awal sebagai kawasan yang sarat ego, proxy, dan luka sejarah, di mana perdamaian sejati di sana, terkadang tidak lahir dari niat baik semata. Ia membutuhkan mediator yang tidak hanya kuat, tetapi juga tulus dan adil.

Di sinilah tantangan terbesar Indonesia: membuktikan bahwa kehadirannya di Board of Peace semata sebagai alat untuk memperbesar peluang keadilan bagi Palestina, meski jalan menuju ke sana penuh risiko dan jebakan-jebakan.

Karena bagi kita bangsa Indonesia, membela Palestina bukan soal simbol kehadiran di forum global, tetapi upaya kita memastikan, diplomasi Indonesia tidak kehilangan Nurani sebagai sebuah bangsa Besar.* (news.detik.com)

*)Penulis adalahDirektur Sintesa Strategi Indonesia (SSI) Alumnus Paramadina Graduate School of Communication (PGSC).

Editor
: Nurul
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Gus Yahya Dukung Indonesia Bergabung di Board of Peace Buatan Trump: Untuk Bantu Palestina
Polemik 'New Gaza': Mengapa Indonesia Harus Gabung Board of Peace?
Perbedaan Pandangan PBNU dan MUI soal Dewan Perdamaian Gaza: Dukungan Strategis Indonesia vs Kritik Neokolonialisme
Presidensi Indonesia di Dewan HAM Di Tengah Krisis Timur Tengah
Mengapa Indonesia Harus Gabung Board of Peace
Jusuf Kalla: Perdamaian Gaza Harus Libatkan Warga Lokal, Bukan Hanya Negara Besar
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru