Mereka ingin publik percaya bahwa di dalam pemerintahan terjadi keretakan hebat, padahal yang terjadi adalah dinamika kerja normal dan lazim.
Penyusupan agenda melalui tim liputan tematik adalah metode sangat halus. Secara operasional mungkin legal, namun secara moral-nasionalis, mungkin ini bisa dikategorikan bentuk pelacuran profesi.
Media seharusnya menjadi "anjing penjaga" (watchdog) bagi kepentingan rakyat, justru berubah menjadi "anjing pemburu" bagi kepentingan donor asing yang ingin melihat Indonesia tetap kerdil dan mudah diatur. Lalu pertanyaannya "Siapa sesungguhnya anjing itu?"
Mengapa Sjafrie dan Dasco?
Targetnya sangat taktis. Syamsuddin dan Dasco Ahmad adalah dua figur dikenal memiliki loyalitas tinggi dan kemampuan eksekusi kuat dalam menjaga stabilitas politik serta ekonomi.
Membenturkan keduanya adalah cara paling efektif memutus komunikasi antar-faksi di pemerintahan.
Jika dua pilar ini retak, benteng pertahanan Presiden Prabowo dibayangkan gogah. Apalagi saat menghadapi tekanan ekonomi global akan melemah. Tempo, dengan jubah "independensi"-nya, seolah-olah sedang melaporkan fakta.
Padahal, pemilihan sudut pandang (framing) dan waktu penayangan berita tersebut menunjukkan adanya niat jahat (malice), sinyal kuat ada upaya memecah belah bangsa.
Mereka menggunakan kebebasan pers yang kita perjuangkan dengan darah untuk melayani kepentingan asing, pihak-pihak yang antipati terhadap kebangkitan Indonesia.
Kedaulatan di Atas Segalanya
Jangan naif. Di era informasi ini, berita adalah peluru dan media adalah senapannya. Jika senapannya dimiliki oleh entitas domestik namun pelurunya dipasok kepentingan asing lewat skema utang konversi atau pembiayaan program, arah tembakannya bisa jadi bukan untuk membela kedaulatan.
Sebagai bangsa besar, harusnya mampu membedakan mana kritik membangun, mana operasi intelijen media bertujuan memecah belah.