Nilai GMKI menempatkan iman bukan sebagai simbol religius, tetapi sebagai energi profetis yang berani mengoreksi kekuasaan, menyentuh penderitaan rakyat, dan menghadirkan harapan sosial.
Tri Panji GMKI, yaitu Tinggi Iman, Tinggi Ilmu, dan Tinggi Pengabdian bukan sekadar slogan kaderisasi, tetapi fondasi moral pergerakan. Namun, pertanyaan yang harus dijawab dalam Konfercab adalah;
"Apakah nilai itu masih hidup dalam praksis kader hari ini, atau hanya tinggal menjadi retorika di podium pembukaan kegiatan?"
Sejarah membuktikan bahwa GMKI pernah melahirkan kader-kader yang berani berdiri di garis depan perubahan sosial.
Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa organisasi yang terlalu nyaman dengan reputasi masa lalu sering kehilangan daya kritis terhadap dirinya sendiri.
GMKI di Tengah Krisis Identitas Generasi Zaman Baru
Perkembangan zaman membawa tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa awal GMKI berdiri. Revolusi digital, budaya instan, dan individualisme modern perlahan menggerus militansi kader.
Aktivisme hari ini sering kali bergeser menjadi aktivisme pencitraan, di mana keberanian moral digantikan oleh popularitas media sosial.
Kader GMKI menghadapi bahaya laten, yaitu kehilangan kedalaman refleksi spiritual dan intelektual. Organisasi berisiko menjadi tempat berproses administratif, bukan ruang pembentukan karakter profetis.
Alkitab memberikan peringatan keras melalui Roma 12:2 tentang bahaya menyerupai dunia. Dalam organisasi, ayat ini menjadi kritik terhadap kecenderungan GMKI yang terkadang terlalu larut dalam pragmatisme struktural, mengorbankan nilai demi stabilitas politik internal.
Jika GMKI gagal mempertahankan karakter kritis dan moralitas kader, maka GMKI akan berubah menjadi organisasi mahasiswa biasa yang kehilangan identitas historisnya.