Setiap organisasi yang ingin bertumbuh pasti menghadapi resistensi. Dalam GMKI, resistensi sering muncul dalam bentuk fragmentasi kader, konflik kepentingan, dan pertarungan ego sektoral.
Konfercab sering menjadi arena tarik-menarik kepentingan kelompok, bukan ruang mencari kebenaran organisasi. Jika fenomena ini terus dibiarkan, GMKI akan mengalami krisis kepercayaan kader terhadap nilai GMKIan itu sendiri.
Padahal konflik internal tidak selalu buruk. Dalam perspektif iman, konflik adalah ruang pemurnian. Tetapi konflik hanya menjadi berkat jika diselesaikan dengan kejujuran, kasih, dan kedewasaan spiritual.
Tanpa itu, konflik hanya akan melahirkan kepemimpinan yang lemah dan organisasi yang rapuh.
Tiga Mandat Suci Konfercab
Konfercab memiliki tiga fungsi utama yang tidak boleh dipersempit menjadi agenda administratif.
Pertama, Konfercab adalah ruang pertanggungjawaban sejarah. Pengurus yang telah melayani harus berani membuka keberhasilan sekaligus kegagalan tanpa manipulasi narasi. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang berani mengakui kesalahan.
Kedua, Konfercab adalah ruang merumuskan arah masa depan GMKI. Rumusan program bukan sekadar daftar kegiatan, tetapi harus menjadi peta jalan pergerakan yang menjawab persoalan gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat secara konkret.
Ketiga, Konfercab adalah ruang memilih Penjabat atau Ketua Cabang yang mampu memikul mandat sejarah GMKI. Pemimpin GMKI bukan manajer organisasi, melainkan pelayan nilai dan penjaga moral gerakan.
Pemimpin yang lahir dari Konfercab harus mampu berdiri di antara dua kutub: menjaga idealisme kader sekaligus menghadirkan relevansi sosial GMKI di tengah perubahan zaman.
Harapan Kader Seluruh Indonesia
GMKI bukan milik satu cabang atau satu generasi. GMKI adalah warisan gerakan nasional yang memikul harapan kader di seluruh Indonesia.