Konfercab GMKI Cabang Medan akan menjadi cerminan bagaimana masa depan kaderisasi GMKI di wilayah Sumatera Utara bahkan secara nasional.
Harapan kader Indonesia terhadap GMKI tidak pernah berubah, yaitu GMKI harus tetap menjadi organisasi mahasiswa yang berani berpikir kritis, berdiri di pihak keadilan, dan menghadirkan suara kenabian di tengah masyarakat.
Dalam Injil Matius 5:13-14, kader Kristen dipanggil menjadi garam dan terang dunia. Filosofi ini menegaskan bahwa GMKI tidak boleh hanya hadir dalam ruang diskusi intelektual, tetapi harus menjadi terang dalam realitas sosial yang penuh ketidakadilan.
Kepada Ketua Terpilih
Ketua GMKI yang akan terpilih harus menyadari bahwa kepemimpinan dalam GMKI bukan jabatan kehormatan, melainkan tanggung jawab pengorbanan. Memimpin GMKI berarti siap dikritik, diuji, dan bahkan disalahpahami demi menjaga nilai organisasi.
Ketua GMKI harus berani membangun kaderisasi yang berkarakter, memperkuat solidaritas lintas komisariat, serta menghidupkan kembali tradisi intelektual dan spiritual GMKI. Kepemimpinan GMKI tidak boleh hanya fokus pada stabilitas organisasi, tetapi harus berorientasi pada transformasi kader.
Penutup
Konfercab ke-37 harus menjadi titik balik kebangkitan moral GMKI Cabang Medan. GMKI tidak boleh kehilangan roh pergerakan yang selama ini menjadikannya organisasi kader yang diperhitungkan dalam sejarah bangsa.
Jika Konfercab mampu melahirkan kepemimpinan yang jujur, visioner, dan berakar pada nilai Kristiani, maka GMKI akan tetap menjadi gerakan harapan. Tetapi jika Konfercab hanya menjadi rutinitas struktural, maka GMKI perlahan akan kehilangan relevansinya.
GMKI memiliki sejarah besar. Namun sejarah tidak pernah cukup untuk menjamin masa depan.
Masa depan GMKI ditentukan oleh keberanian kader hari ini untuk kembali kepada nilai, kepada panggilan iman, dan kepada tanggung jawab sejarah. Konfercab bukan sekadar forum organisasi. Konfercab adalah ujian nurani GMKI.*
*)Penulis adalahakademisi muda dan aktivis organisasi.