KONFERENSI Cabang sering kali dirayakan dengan euforia demokrasi organisasi, tetapi jarang dipahami sebagai ruang penghakiman moral terhadap perjalanan sebuah gerakan.
Konferensi Cabang ke-37 GMKI Cabang Medan bukan sekadar forum seremonial pergantian kepemimpinan, melainkan momentum evaluasi sejarah, yaitu apakah GMKI masih menjadi gerakan nilai, atau hanya menjadi organisasi yang hidup dari nostalgia kejayaan masa lalu.
Konfercab ini diikuti oleh 23 komisariat dari seluruh kampus di Medan, di mana masing-masing komisariat rata-rata mengirimkan 8 delegasi dan 2 peninjau, sehingga diperkirakan sedikitnya 230 peserta terlibat langsung dalam forum ini.
Jumlah tersebut belum termasuk kehadiran BPC yang mempertanggungjawabkan kepengurusan serta para senior yang melakukan fungsi pengawasan dan pembinaan. Mereka adalah calon-calon pemimpin Kota Medan, Sumatera Utara, bahkan Indonesia di masa depan.
Konferensi Cabang sering kali dirayakan dengan euforia demokrasi organisasi, tetapi jarang dipahami sebagai ruang penghakiman moral terhadap perjalanan sebuah gerakan.
Konferensi Cabang ke-37 GMKI Cabang Medan bukan sekadar forum seremonial pergantian kepemimpinan, melainkan momentum evaluasi sejarah, yaitu apakah GMKI masih menjadi gerakan nilai, atau hanya menjadi organisasi yang hidup dari nostalgia kejayaan masa lalu.
Konfercab ini diikuti oleh 23 komisariat dari seluruh kampus di Medan, di mana masing-masing komisariat rata-rata mengirimkan 8 delegasi dan 2 peninjau, sehingga diperkirakan sedikitnya 230 peserta terlibat langsung dalam forum ini.
Jumlah tersebut belum termasuk kehadiran BPC yang mempertanggungjawabkan kepengurusan serta para senior yang melakukan fungsi pengawasan dan pembinaan. Mereka adalah calon-calon pemimpin Kota Medan, Sumatera Utara, bahkan Indonesia di masa depan.
GMKI lahir bukan dari ruang nyaman, melainkan dari pergumulan sejarah gereja dan bangsa yang sarat konflik, ketidakadilan, dan ketimpangan sosial.
GMKI dibangun di atas kesadaran bahwa mahasiswa Kristen tidak boleh hanya menjadi penonton sejarah, melainkan subjek perubahan.
Nilai GMKI menempatkan iman bukan sebagai simbol religius, tetapi sebagai energi profetis yang berani mengoreksi kekuasaan, menyentuh penderitaan rakyat, dan menghadirkan harapan sosial.
Tri Panji GMKI, yaitu Tinggi Iman, Tinggi Ilmu, dan Tinggi Pengabdian bukan sekadar slogan kaderisasi, tetapi fondasi moral pergerakan. Namun, pertanyaan yang harus dijawab dalam Konfercab adalah;
"Apakah nilai itu masih hidup dalam praksis kader hari ini, atau hanya tinggal menjadi retorika di podium pembukaan kegiatan?"
Sejarah membuktikan bahwa GMKI pernah melahirkan kader-kader yang berani berdiri di garis depan perubahan sosial.
Tetapi sejarah juga mengajarkan bahwa organisasi yang terlalu nyaman dengan reputasi masa lalu sering kehilangan daya kritis terhadap dirinya sendiri.
GMKI di Tengah Krisis Identitas Generasi Zaman Baru
Perkembangan zaman membawa tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa awal GMKI berdiri. Revolusi digital, budaya instan, dan individualisme modern perlahan menggerus militansi kader.
Aktivisme hari ini sering kali bergeser menjadi aktivisme pencitraan, di mana keberanian moral digantikan oleh popularitas media sosial.
Kader GMKI menghadapi bahaya laten, yaitu kehilangan kedalaman refleksi spiritual dan intelektual. Organisasi berisiko menjadi tempat berproses administratif, bukan ruang pembentukan karakter profetis.
Alkitab memberikan peringatan keras melalui Roma 12:2 tentang bahaya menyerupai dunia. Dalam organisasi, ayat ini menjadi kritik terhadap kecenderungan GMKI yang terkadang terlalu larut dalam pragmatisme struktural, mengorbankan nilai demi stabilitas politik internal.
Jika GMKI gagal mempertahankan karakter kritis dan moralitas kader, maka GMKI akan berubah menjadi organisasi mahasiswa biasa yang kehilangan identitas historisnya.
Penyakit Lama yang Terus Berulang
Setiap organisasi yang ingin bertumbuh pasti menghadapi resistensi. Dalam GMKI, resistensi sering muncul dalam bentuk fragmentasi kader, konflik kepentingan, dan pertarungan ego sektoral.
Konfercab sering menjadi arena tarik-menarik kepentingan kelompok, bukan ruang mencari kebenaran organisasi. Jika fenomena ini terus dibiarkan, GMKI akan mengalami krisis kepercayaan kader terhadap nilai GMKIan itu sendiri.
Padahal konflik internal tidak selalu buruk. Dalam perspektif iman, konflik adalah ruang pemurnian. Tetapi konflik hanya menjadi berkat jika diselesaikan dengan kejujuran, kasih, dan kedewasaan spiritual.
Tanpa itu, konflik hanya akan melahirkan kepemimpinan yang lemah dan organisasi yang rapuh.
Tiga Mandat Suci Konfercab
Konfercab memiliki tiga fungsi utama yang tidak boleh dipersempit menjadi agenda administratif.
Pertama, Konfercab adalah ruang pertanggungjawaban sejarah. Pengurus yang telah melayani harus berani membuka keberhasilan sekaligus kegagalan tanpa manipulasi narasi. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang berani mengakui kesalahan.
Kedua, Konfercab adalah ruang merumuskan arah masa depan GMKI. Rumusan program bukan sekadar daftar kegiatan, tetapi harus menjadi peta jalan pergerakan yang menjawab persoalan gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat secara konkret.
Ketiga, Konfercab adalah ruang memilih Penjabat atau Ketua Cabang yang mampu memikul mandat sejarah GMKI. Pemimpin GMKI bukan manajer organisasi, melainkan pelayan nilai dan penjaga moral gerakan.
Pemimpin yang lahir dari Konfercab harus mampu berdiri di antara dua kutub: menjaga idealisme kader sekaligus menghadirkan relevansi sosial GMKI di tengah perubahan zaman.
Harapan Kader Seluruh Indonesia
GMKI bukan milik satu cabang atau satu generasi. GMKI adalah warisan gerakan nasional yang memikul harapan kader di seluruh Indonesia.
Konfercab GMKI Cabang Medan akan menjadi cerminan bagaimana masa depan kaderisasi GMKI di wilayah Sumatera Utara bahkan secara nasional.
Harapan kader Indonesia terhadap GMKI tidak pernah berubah, yaitu GMKI harus tetap menjadi organisasi mahasiswa yang berani berpikir kritis, berdiri di pihak keadilan, dan menghadirkan suara kenabian di tengah masyarakat.
Dalam Injil Matius 5:13-14, kader Kristen dipanggil menjadi garam dan terang dunia. Filosofi ini menegaskan bahwa GMKI tidak boleh hanya hadir dalam ruang diskusi intelektual, tetapi harus menjadi terang dalam realitas sosial yang penuh ketidakadilan.
Kepada Ketua Terpilih
Ketua GMKI yang akan terpilih harus menyadari bahwa kepemimpinan dalam GMKI bukan jabatan kehormatan, melainkan tanggung jawab pengorbanan. Memimpin GMKI berarti siap dikritik, diuji, dan bahkan disalahpahami demi menjaga nilai organisasi.
Ketua GMKI harus berani membangun kaderisasi yang berkarakter, memperkuat solidaritas lintas komisariat, serta menghidupkan kembali tradisi intelektual dan spiritual GMKI. Kepemimpinan GMKI tidak boleh hanya fokus pada stabilitas organisasi, tetapi harus berorientasi pada transformasi kader.
Penutup
Konfercab ke-37 harus menjadi titik balik kebangkitan moral GMKI Cabang Medan. GMKI tidak boleh kehilangan roh pergerakan yang selama ini menjadikannya organisasi kader yang diperhitungkan dalam sejarah bangsa.
Jika Konfercab mampu melahirkan kepemimpinan yang jujur, visioner, dan berakar pada nilai Kristiani, maka GMKI akan tetap menjadi gerakan harapan. Tetapi jika Konfercab hanya menjadi rutinitas struktural, maka GMKI perlahan akan kehilangan relevansinya.
GMKI memiliki sejarah besar. Namun sejarah tidak pernah cukup untuk menjamin masa depan.
Masa depan GMKI ditentukan oleh keberanian kader hari ini untuk kembali kepada nilai, kepada panggilan iman, dan kepada tanggung jawab sejarah. Konfercab bukan sekadar forum organisasi. Konfercab adalah ujian nurani GMKI.*
*)Penulis adalahakademisi muda dan aktivis organisasi.