BREAKING NEWS
Rabu, 08 April 2026

Geopolitik dan Dampak pada Dunia Usaha

BITV Admin - Rabu, 08 April 2026 07:41 WIB
Geopolitik dan Dampak pada Dunia Usaha
Ilustrasi. (foto: AI/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh:Azhar Syahida.

"I'M not going to start wars, I'm going to stop wars," ujar Presiden Donald Trump saat pidato kemenangan pemilu presiden Amerika Serikat (AS) pada 6 November 2024.

Kendati demikian, perang Iran yang diawali serangan Israel-AS ke Teheran pada 28 Februari 2026 mempertegas bahwa ucapan tak lebih dari sekadar wacana belaka.

Baca Juga:

Agaknya, yang tak terpikirkan oleh AS-Israel adalah bahwa perang Iran berdampak serius terhadap suplai energi global. Jauh lebih besar cakupan dampaknya dibandingkan dengan perang 12 hari ketika Israel menyerang Iran pada Juni 2025.

Sejak serangan pertama dimulai, harga minyak dunia terus melambung signifikan. Mencapai level tertinggi pada 9 Maret 2026 dengan rata-rata USD119 per barel. Jika dibandingkan dengan perang Ukraina, akselerasi kenaikan harga minyak mentah akibat perang Iran jauh lebih cepat.

Pada perang Iran kali ini, harga minyak mentah melompat di atas USD100 per barel hanya dalam waktu kurang dari dua pekan. Sementara ketika perang Ukraina pada Februari 2022, lonjakan harga minyak membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk mencapai level di atas USD100 per barel.

Penutupan Selat Hormuz adalah faktor kunci kenaikan harga minyak. Selat Hormuz menyuplai 20% minyak mentah dunia. Dan 80% di antaranya dikirim ke negara-negara di Asia.

Kalkulasi IMF menunjukkan, setiap kenaikan 10% harga minyak mentah dunia berpotensi mengerek inflasi 0,4 poin.

Menggunakan asumsi harga minyak mentah per 6 April 2026 dibandingkan dengan harga pada 28 Februari 2026, maka telah terjadi kenaikan harga minyak mentah sebesar 55%. Dengan demikian, inflasi global berpotensi meningkat 2,2 poin.

Kenaikan biaya energi dan inflasi global ini berpotensi menekan daya beli konsumen di dalam negeri. Kekhawatiran terhadap potensi naiknya harga BBM bersubsidi memicu gejala panic buying di beberapa daerah, seperti di Aceh, Sumatera Utara, dan Kalimantan Barat.

Meski demikian, sampai saat ini belum ada wacana pemerintah akan menaikkan harga BBM bersubsidi.

Jika harga minyak mentah terus bertahan di atas USD100 per barel, beban fiskal akan meningkat tajam.

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Dolar AS Menguat, Seberapa Kuat BI Menahan Tekanan Rupiah?
Purbaya Buka-bukaan Soal BBM Ditahan, Ternyata Instruksi Presiden
DPR Bereaksi Keras! Minta Pemerintah Serius Usut Kematian Prajurit TNI
Pasar Saham Loyo, IHSG Parkir di 6.971 Terimbas Isu AS vs Iran
HUT ke-78 Sumatera Utara Usung “Satu Kolaborasi, Sejuta Energi”, Pemprov Genjot Sinergi Percepatan Pembangunan Daerah
Wamenkeu Ungkap Strategi Tahan Defisit Meski Subsidi BBM Naik
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru