BREAKING NEWS
Sabtu, 25 Juli 2026

Nommensen Festival 2026: Ketika Hiburan Lebih Diutamakan daripada Pendidikan dan Penelitian

Administrator - Sabtu, 25 Juli 2026 18:41 WIB
Nommensen Festival 2026: Ketika Hiburan Lebih Diutamakan daripada Pendidikan dan Penelitian
Samuel Marganda Tua Lumban Gaol, Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan. (foto: Ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

Oleh: Samuel Marganda Tua Lumban Gaol

TRI Dharma Perguruan Tinggi adalah fondasi utama eksistensi setiap universitas di Indonesia.

Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, perguruan tinggi wajib menyelenggarakan tiga pilar: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat.

Baca Juga:

Ketiga pilar ini menjadi tolok ukur apakah sebuah kampus benar-benar menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan tinggi yang bermartabat.

Namun, rencana gelaran Nommensen Festival 2026 yang akan datang justru menghadirkan ironi yang menggelitik.

Di tengah upaya serius memajukan dunia pendidikan melalui Tri Dharma, konser dan hiburan mewah justru tampil lebih menonjol.

Kampus yang seharusnya menjadi ruang pengembangan keilmuan dan penalaran, berubah menjadi panggung hiburan yang menghadirkan artis papan atas.

Padahal esensi festival kampus seharusnya menjadi ajang aktualisasi kreativitas mahasiswa, bukan sekadar pesta hiburan yang mengabaikan fungsi utama pendidikan.

Ironi ini harus menjadi perhatian serius karena menyangkut arah dan prioritas pengelolaan kampus yang semakin hari semakin rancu.

Lebih ironis lagi, kegiatan ini direncanakan berlangsung di saat mahasiswa sedang menjalani masa libur, sehingga partisipasi dan keterlibatan mahasiswa secara keseluruhan menjadi pekerjaan rumah yang tak terjawab.

Festival yang diklaim sebagai "ajang kebanggaan kampus" justru berpotensi menjadi ajang eksklusif yang tidak melibatkan seluruh elemen mahasiswa.

Biaya partisipasi yang dibebankan kepada mahasiswa menjadi sorotan pertama.

Nommensen Festival 2026 dikemas dengan kemeriahan yang spektakuler: menghadirkan deretan musisi papan atas dan berbagai atraksi hiburan lainnya.

Untuk mendatangkan artis-artis ternama dan menggelar acara besar, tentu dibutuhkan dana yang tidak sedikit.

Namun yang menjadi pertanyaan adalah: dari mana sumber pendanaan utama kegiatan ini?

Jika biaya operasional festival ditanggung oleh mahasiswa melalui tiket partisipasi yang mahal, maka hal ini menjadi persoalan serius.

Mahasiswa yang sudah dibebani biaya pendidikan dan kebutuhan perkuliahan, kini harus kembali menguras kantong untuk sekadar hadir dalam acara yang diklaim sebagai "festival kampus".

Biaya partisipasi yang tidak terjangkau justru berpotensi menciptakan jurang antara mahasiswa yang mampu dan tidak mampu untuk ikut merayakan momentum dies natalis kampusnya sendiri.

Hal ini tentu bertentangan dengan semangat inklusivitas dan kebersamaan yang seharusnya menjadi nilai dasar dalam setiap kegiatan kampus.

Seharusnya, sebagai bentuk apresiasi dan fasilitasi terhadap mahasiswa, kampus memberikan akses gratis atau setidaknya subsidi yang signifikan agar seluruh mahasiswa tanpa terkecuali dapat berpartisipasi.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah persoalan tata kelola keuangan kampus yang terkesan timpang.

Kehidupan organisasi internal mahasiswa di Universitas HKBP Nommensen selama ini berjalan dengan terbatas karena pembiayaan dari kampus sering kali tersendat dan lambat.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa proses pencairan dana untuk kegiatan organisasi internal bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan ada yang tidak kunjung terealisasi.

Akibatnya, berbagai program kemahasiswaan yang seharusnya menjadi wadah pengembangan minat, bakat, dan kapasitas kepemimpinan mahasiswa terpaksa berjalan seadanya atau bahkan terbengkalai.

Padahal, organisasi internal seperti Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), dan unit kegiatan mahasiswa (UKM) lainnya adalah ujung tombak pengembangan soft skill mahasiswa di luar perkuliahan.

Penelitian akademis menunjukkan bahwa kurangnya fasilitas dan pendanaan menjadi penghambat utama pengembangan potensi mahasiswa melalui organisasi internal di berbagai perguruan tinggi, termasuk di Universitas HKBP Nommensen.

Namun di sisi lain, ketika ada festival besar seperti Nommensen Festival, dana seolah mengalir dengan cepat dan tanpa hambatan berarti.

Pertanyaan kritisnya adalah: mengapa dana untuk kegiatan seremonial yang menghadirkan artis bisa diupayakan dengan cepat dan mudah, sementara dana untuk pengembangan potensi mahasiswa melalui organisasi internal justru berjalan tertatih-tatih?

Ini menandakan adanya ketimpangan dan ketidakonsistenan dalam tata kelola keuangan kampus.

Pendanaan yang tidak seimbang ini menunjukkan bahwa prioritas kampus lebih tertuju pada citra dan popularitas jangka pendek dibandingkan pada pengembangan substansi mahasiswa dalam jangka panjang.

Kampus seolah lebih peduli pada kemasan dan gimmick ketimbang pada isi dan kualitas pembinaan mahasiswa.

Kritik berikutnya adalah ketiadaan relevansi Nommensen Festival dengan proses pembelajaran dan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Acara yang mengusung konsep hiburan dan konser musik ini tidak memiliki keterkaitan langsung dengan tiga pilar utama pendidikan tinggi.

Padahal, Tri Dharma Perguruan Tinggi mencakup pendidikan yang berfokus pada pemberian pengetahuan dan pengembangan potensi mahasiswa, penelitian yang berfokus pada pengembangan ilmu pengetahuan dan pemecahan masalah masyarakat, serta pengabdian yang menjadi kewajiban dosen dan mahasiswa untuk berkontribusi kepada masyarakat.

Nommensen Festival lebih terlihat sebagai ajang promosi dan pencitraan kampus semata.

Jika tujuan utama festival ini adalah untuk merayakan dies natalis, seharusnya kampus dapat merancang kegiatan yang lebih substantif dan melibatkan partisipasi aktif mahasiswa dalam berbagai lomba akademik, seminar, pengabdian masyarakat, atau pameran karya ilmiah.

Bukan sekadar konser hiburan yang sifatnya sesaat dan cepat berlalu.

Festival kampus yang ideal adalah festival yang mampu mengintegrasikan unsur hiburan dengan nilai-nilai edukasi dan pengembangan karakter mahasiswa.

Namun dalam kasus Nommensen Festival 2026, hiburan justru menjadi prioritas utama sementara nilai edukasi hanya menjadi tempelan seremonial belaka.

Di sisi lain, kita tidak bisa memungkiri bahwa festival semacam ini dapat menjadi ajang promosi universitas dan menarik minat calon mahasiswa.

Kegiatan besar yang melibatkan artis terkenal tentu dapat meningkatkan citra kampus di mata publik.

Namun, promosi tidak seharusnya dilakukan dengan mengorbankan prinsip-prinsip dasar pendidikan tinggi dan membebani mahasiswa dengan biaya yang tidak ringan.

Jika kampus ingin mempromosikan diri, seharusnya dapat dilakukan melalui pencapaian akademik, prestasi mahasiswa di tingkat nasional dan internasional, serta kualitas lulusan yang dihasilkan.

Bukan sekadar konser mewah yang cepat berlalu dan hanya meninggalkan kenangan tanpa makna mendalam.

Kampus juga perlu menyadari bahwa mahasiswa adalah subjek utama pendidikan, bukan sekadar objek yang dibebani biaya untuk kemeriahan acara.

Dana yang besar seharusnya diarahkan untuk memperbaiki fasilitas belajar, meningkatkan kualitas dosen, mendanai penelitian dan pengabdian mahasiswa, atau mengembangkan program-program pemberdayaan mahasiswa yang lebih berkelanjutan.

Kampus harus mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara yang esensial dan yang seremonial.

Sudah saatnya Universitas HKBP Nommensen melakukan evaluasi mendalam terhadap rencana penyelenggaraan Nommensen Festival 2026 dan kegiatan serupa ke depan.

Kampus harus kembali pada esensi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu menjalankan peran pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara konsisten dan berkeadilan.

Dana yang ada harus dikelola dengan transparan dan prioritas yang jelas: mendahulukan kebutuhan akademik dan pengembangan organisasi kemahasiswaan di atas kegiatan seremonial yang hanya menguntungkan segelintir pihak.

Kampus harus berani menghentikan kebiasaan menggelar acara mewah dengan biaya mahal yang tidak relevan dengan proses pembelajaran.

Mahasiswa dan masyarakat juga perlu kritis terhadap kebijakan kampus yang tidak berpihak pada kepentingan akademik.

Forum-forum diskusi dan rapat dengar pendapat antara pengurus yayasan, rektorat, dan mahasiswa perlu terus digalakkan sebagai ruang aspirasi dan kontrol bersama.

Sebab, kampus yang baik adalah kampus yang tidak hanya sibuk dengan gemerlap panggung, tetapi juga peduli pada masa depan mahasiswa dan bangsanya.

Seperti yang ditegaskan, Tri Dharma bukan slogan, tetapi pilar moral untuk memastikan bahwa perguruan tinggi benar-benar menjalankan fungsinya sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian.

Nommensen yang bermartabat adalah Nommensen yang tidak melupakan jati dirinya sebagai institusi pendidikan.

Dan itu dimulai dari keberanian kita semua untuk mengkritisi dan memperbaiki arah kebijakan kampus, hari ini juga.*


*) Penulis adalahMahasiswa Fakultas Psikologi Universitas HKBP Nommensen Medan

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
beritaTerkait
Kemendikdasmen Targetkan Revitalisasi 71.744 Sekolah pada 2026, Libatkan 1,1 Juta Tenaga Kerja
AMPI Binjai dan Pemko Gelar Gerakan Safari Dakwah Subuh, Ajak Masyarakat Makmurkan Masjid
Yayasan Methodist Benayah Ajukan Pembelian Aset Pemko untuk Perluasan Sekolah, Wali Kota: Harus Ikuti Aturan dan Persetujuan DPRD
Pemko Tanjungbalai Salurkan 20 Kursi Roda dan 90 Seragam Sekolah untuk Penyandang Disabilitas dan Siswa SD
PMDG Kampus 8 Aceh Gelar Senam Bersama, Perkuat Kebugaran dan Ukhuwah Guru-Santri
104.426 Siswa di Sumut Nikmati Program Sekolah Gratis, Disdik Tegaskan Tidak Termasuk Seragam
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru