BREAKING NEWS
Selasa, 17 Maret 2026

Meriam Bottot: Harta Sejarah di Pantai Barat Sumatera Utara yang Terancam Hilang

Adelia Syafitri - Minggu, 01 Juni 2025 08:31 WIB
Meriam Bottot: Harta Sejarah di Pantai Barat Sumatera Utara yang Terancam Hilang
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
+ Gabung

TAPANULI TENGAH – Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara kembali mencuri perhatian.

Tak hanya kaya akan keanekaragaman hayati dan keindahan alam, wilayah ini menyimpan warisan sejarah yang nyaris terlupakan, yaitu Meriam raksasa di Bukit Bottot, Desa Sitardas, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Meriam sepanjang 7 meter dengan diameter 0,7 meter ini diyakini merupakan peninggalan buatan Inggris, terlihat dari lambang Kerajaan Inggris yang terpahat jelas di permukaannya.

Berbahan logam mulia seperti tembaga, kuningan atau perunggu, Meriam Bottot menghadap ke arah Barat, seolah masih menjaga pantai seperti fungsinya di masa lampau.

Namun, keagungan sejarah ini kini terancam. Mur-mur penyangga telah raib dicuri.

Bagian pangkal meriam bahkan tampak nyaris terpotong oleh upaya pencurian logam.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya akses dan perhatian dari pihak terkait.

Situs Meriam Bottot berdiri di perbukitan setinggi 70 mdpl, yang hanya bisa diakses dengan kapal.

Namun perairan sekitar pantai tergolong dangkal dan penuh karang, membuat kapal harus berlabuh jauh dari daratan.

Tersedia sebuah dermaga kecil milik warga sekitar, namun perjalanan menuju situs harus dilanjutkan dengan trekking melalui jalur pantai yang ekstrem.

Di lokasi yang sama, terdapat pula tiga unit bunker yang diyakini bagian dari lima struktur pertahanan di masa lalu.

Sisanya telah hilang, menyisakan misteri dan kekhawatiran akan hilangnya jejak sejarah yang lebih luas.

Menurut Ari Sadewo, Arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, ia terakhir meninjau lokasi ini pada tahun 2001.

Hingga kini, belum ada literatur resmi atau riset akademik yang mengupas tuntas sejarah kawasan Bottot.

Bottot bukan hanya rumah bagi peninggalan sejarah.

Perbukitannya menjadi habitat alami bagi sedikitnya tujuh jenis Kantong Semar (Nepenthes), termasuk spesies endemik Nepenthes sumatrana.

Dari puncak bukit, panorama Teluk Tapian Nauli dan gugusan Pulau Situngkus, Pulau Bakar, hingga Pulau Mursala menyapa dengan pesonanya.

Di sisi laut, kawasan ini menyimpan keindahan bawah air yang mengagumkan.

Perairannya menjadi rumah bagi ikan Nemo dan terumbu karang yang tumbuh subur, termasuk karang terompet.

Spot snorkeling, jalur susur pantai ekstrem, goa yang diduga buatan manusia, hingga pemandangan sunset yang dramatis menjadikan Bottot sebagai destinasi impian pecinta petualangan dan sejarah.

Meski memiliki potensi wisata sejarah, alam, dan budaya yang luar biasa, Bottot nyaris luput dari perhatian pemerintah.

Minimnya infrastruktur dan promosi menjadi hambatan utama.

Ironisnya, potensi wisata ini justru bisa menjadi solusi untuk menjaga dan melestarikan kawasan dari kerusakan akibat pencurian maupun vandalisme.

Pariwisata berbasis konservasi bisa menjadi strategi utama. Namun itu hanya bisa terwujud jika seluruh pihak, pemerintah, masyarakat, swasta, dan komunitas, bersinergi.

Dengan konsep ekowisata yang tepat, Bottot bisa menjadi destinasi unggulan Sumatera Utara sekaligus situs sejarah yang lestari.*

(ts/a008)

Editor
: Adelia Syafitri
0 komentar
Tags
komentar
Masuk untuk memberikan atau membalas komentar.
beritaTerbaru