Polda Sumut Minta Waktu Dua Bulan Ungkap Kematian Winda Lorenza Gowasa
MEDAN Polda Sumatera Utara meminta waktu sekitar dua bulan untuk mengungkap secara menyeluruh penyebab kematian Winda Lorenza Gowasa, 35
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA -Kasus suap yang melibatkan Harun Masiku kembali menjadi sorotan publik, terutama setelah Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, menyatakan bahwa kasus tersebut digunakan sebagai alat untuk menyerangnya dalam konteks kritik terhadap pemerintah.
Dalam sebuah wawancara dengan salah satu stasiun televisi swasta, Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa kasus Harun Masiku selalu muncul bersamaan dengan kritiknya terhadap pemerintah, terutama Presiden Joko Widodo. Menurutnya, ada pihak tertentu yang dengan sengaja mengaitkan kasus Harun Masiku dengan dirinya, meskipun sebenarnya tidak ada keterkaitan yang jelas.
Hasto Kristiyanto juga menunjukkan keheranannya atas seringnya kasus Harun Masiku dikaitkan dengannya, padahal telah ada tiga orang lain yang menjalani proses hukum terkait kasus tersebut. Dia bahkan telah memberikan penjelasan di pengadilan bahwa tidak ada fakta yang menghubungkannya dengan kasus tersebut.
Menurut Hasto Kristiyanto, Harun Masiku sebenarnya merupakan korban dalam kasus tersebut. Harun hanya menjalankan hak konstitusionalnya sebagai anggota DPR untuk menggantikan anggota sebelumnya yang meninggal. Namun, dalam proses tersebut, Harun tergoda oleh oknum KPU yang meminta imbalan untuk memuluskan pergantian antarwaktu tersebut.
Terkait pernyataan Hasto Kristiyanto ini, banyak pihak turut memberikan tanggapannya. Ada yang mendukung pernyataannya, namun ada pula yang menyoroti kebenaran dari klaim tersebut. Beberapa kalangan menilai bahwa klaim tersebut dapat menjadi bagian dari permainan politik untuk mengalihkan perhatian dari kasus yang sebenarnya, sementara yang lain berpendapat bahwa klaim tersebut dapat membuka mata publik terhadap realitas politik yang ada.
Kasus suap Harun Masiku memang menjadi salah satu kasus yang mencuat di tengah-tengah dinamika politik Indonesia. Namun, apakah kasus ini hanya sekadar alat untuk menyerang politisi tertentu ataukah memang terdapat kebenaran yang perlu diungkap, adalah pertanyaan yang masih memerlukan jawaban yang jelas. Hanya dengan pengungkapan kebenaran yang transparan dan adil, masyarakat dapat memperoleh kepercayaan penuh terhadap proses hukum dan politik di negeri ini.
(K/09)
MEDAN Polda Sumatera Utara meminta waktu sekitar dua bulan untuk mengungkap secara menyeluruh penyebab kematian Winda Lorenza Gowasa, 35
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyiapkan anggaran sekitar Rp2,5 miliar untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS)
PEMERINTAHAN
JAKARTA Penyidikan kasus kematian Sutrimo, pria asal Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terus berlanjut setelah proses ekshumasi dan autop
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto menegaskan negara harus hadir untuk masyarakat yang tinggal di daerah terpencil. Menurut dia, kehadira
NASIONAL
AMBON Bidang Profesi dan Pengamanan (Bidpropam) Polda Maluku memproses Kapolsek di jajaran Polresta Ambon dan P.P. Lease, Iptu LOY, sete
HUKUM DAN KRIMINAL
JAKARTA Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDIP Wayan Sudirta mempertanyakan alasan Hari Sih Advianto ingin menjadi hakim agung. Way
NASIONAL
JAKARTA Presiden Prabowo Subianto meresmikan 3.395 jembatan dan 3.000 sumber air bersih yang dibangun TNIPolri. Infrastruktur tersebut
NASIONAL
JAKARTA Tifauzia Tyassuma atau dr Tifa tidak hadir dalam persidangan kasus dugaan fitnah dan pencemaran nama baik terhadap Presiden RI k
HUKUM DAN KRIMINAL
MEDAN PT Saudara Cemerlang Abadi (SAUCA) meraih Juara 3 Badan Usaha Jasa Pengamanan (BUJP) Teladan tingkat nasional dalam rangkaian peri
NASIONAL
JAKARTA Sekretaris Jenderal Partai Golkar Sarmuji mengatakan, wacana pemilihan kepala daerah (pilkada) tanpa wakil kepala daerah dapat m
POLITIK