Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, per Agustus 2025, jumlah angkatan kerja mencapai 146,54 juta orang, naik sekitar 1,90 juta dibanding periode yang sama tahun lalu.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, mengungkapkan, tenaga kerja dengan pendidikan tinggi masih tergolong sedikit, yakni hanya 13,06 persen dari total pekerja.
"Sekitar 34,75 persen tenaga kerja berpendidikan SD ke bawah, jadi pendidikan rendah masih mendominasi," kata Edy di Kantor Pusat BPS, Rabu (5/11/2025).
BPS juga mencatat, sebanyak 84,70 juta orang (57,80 persen) bekerja di sektor informal, sementara pekerja di sektor formal mencapai 61,84 juta orang (42,20 persen).
Meski masih rendah, BPS menilai ada peningkatan kualitas pendidikan tenaga kerja.
"Dibanding Agustus 2024, proporsi lulusan SD menurun dan jumlah pekerja dengan pendidikan diploma hingga sarjana mengalami kenaikan," jelas Edy.
Dari sisi jam kerja, mayoritas pekerja di Indonesia termasuk dalam kategori pekerja penuh waktu, yaitu bekerja lebih dari 35 jam per minggu. Namun demikian, BPS mencatat adanya sedikit penurunan dibanding tahun lalu.
"Proporsi pekerja tidak penuh (1–35 jam per minggu) mencapai 32,68 persen atau sekitar 47,89 juta orang," ujar Edy.
Secara keseluruhan, dari 218,17 juta penduduk usia kerja, sebanyak 154 juta di antaranya masuk dalam kategori angkatan kerja dengan tingkat partisipasi mencapai 70,59 persen.
Sementara itu, jumlah pengangguran terbuka tercatat 7,46 juta orang, turun sekitar 4.000 orang dibanding Agustus 2024.
"Proporsi pekerja penuh dan setengah pengangguran mengalami penurunan. Serapan tenaga kerja terbanyak berada di sektor pertanian, perdagangan, serta industri pengolahan," tutup Edy.*