Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali menggelar Diseminasi Kekayaan Intelektual Tahun Anggaran 2026 di Swiss-Belhotel Rainforest, Kuta, Kamis (12/2/2026). (Foto: ist/BITV)
Berita Terkini, Eksklusif di Saluran WhatsApp bitvonline.com
BADUNG – Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali menggelar Diseminasi Kekayaan Intelektual Tahun Anggaran 2026 di Swiss-Belhotel Rainforest, Kuta, Kamis (12/2/2026).
Kegiatan yang mengusung tema "Peningkatan Kepatuhan Royalti Hak Cipta, Paten dan Pelayanan Prima serta Standar Layanan" ini bertujuan memperkuat ekosistem kekayaan intelektual (KI) di Bali melalui edukasi hukum dan peningkatan kualitas layanan publik.
Acara ini dihadiri oleh beragam peserta, mulai dari pimpinan OPD, kepolisian, akademisi, pelaku seni, pengusaha rumah bernyanyi, hingga asosiasi pusat perbelanjaan.
Kepala Bidang Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkum Bali, Isya Nalaprajayang, menegaskan bahwa forum ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya pelaku UMK, terhadap pentingnya pengelolaan royalti dan paten.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Plh. Kepala Kanwil Kemenkum Bali, Mustiqo Vitra Ardhiansyah. Ia menekankan bahwa royalti hak cipta bukan sekadar pungutan, melainkan bentuk penghargaan bagi pencipta.
"Pemerintah hadir untuk meningkatkan kepatuhan terhadap royalti sebagai perlindungan hak ekonomi pencipta dan pemilik hak terkait," ujar Mustiqo.
Dalam sesi materi, tiga narasumber kompeten hadir.
Direktur Hak Cipta dan Desain Industri DJKI, Agung Damarsasongko, membahas mekanisme pengelolaan royalti, termasuk perluasan objek royalti yang kini mencakup layanan publik komersial di sektor hiburan, kuliner, perhotelan, transportasi, hingga fasilitas umum.
Sementara itu, Direktur Paten, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan Rahasia Dagang DJKI, Dr. Andrieansjah, menekankan bahwa kekayaan intelektual adalah aset dan investasi, bukan beban biaya.
Ia mencontohkan invensi nasional yang diakui dunia, seperti fondasi Cakar Ayam karya Tjokorda Raka Sasrabahu dan teknologi 4G berbasis OFDM oleh Dr. Khoirul Anwar. Menurutnya, KI yang kuat dapat meningkatkan nilai perusahaan, menjamin fidusia, dan menarik investor.
Menutup sesi, Ni Putu Eka Wulandari dari Bank BNI memaparkan Service Excellence, menekankan pentingnya kesan pertama positif, komunikasi efektif, dan penanganan keluhan yang profesional.
Kegiatan ini diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif berbasis KI di Bali serta mewujudkan standar layanan publik yang profesional dan tepercaya.*