KKSU 2026 Resmi Dibuka, Bobby Nasution Dorong UMKM Sumut Tembus Pasar Global dan Tarik Investor
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution menegaskan pentingnya peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) s
PEMERINTAHAN
BITV EDUCATION -Pada 28 Oktober 1928, sebuah momen bersejarah tercipta di Jakarta ketika Kongres Pemuda II digelar. Di tengah diskusi yang penuh semangat, lagu “Indonesia Raya” pertama kali dilantunkan oleh seorang pemuda berbakat, Wage Rudolf (WR) Supratman. Momen ini bukan hanya menjadi catatan penting dalam sejarah pergerakan pemuda Indonesia, tetapi juga menjadi simbol perjuangan kemerdekaan yang terus dikenang hingga kini.
Keberanian di Tengah AncamanKongres Pemuda II diadakan di tiga tempat berbeda, yaitu Gedung Perhimpunan Pemuda Katolik, Gedung Oost Java Bioscoop, dan Gedung Indonesische Clubgebouw. Supratman, yang hadir di kongres tersebut, membawa sebuah surat kepada Sugondo Djojopuspito, pemimpin kongres, dengan permohonan untuk membawakan lagu kebangsaan ciptaannya. Namun, situasi pada saat itu tidaklah mudah; kongres diawasi ketat oleh Polisi Rahasia Belanda yang mengawasi setiap langkah para pemuda.
Meskipun tidak mendapatkan jawaban atas permintaannya, Supratman tidak kehilangan harapan. Dengan penuh keyakinan, ia bertanya langsung kepada Sugondo, “Bung Gondo, apakah saya dapat memperdengarkannya sekarang?” Menyadari kesungguhan Supratman, Sugondo kemudian meminta izin kepada petinggi pemerintah Belanda yang hadir. Meskipun jawaban yang diberikan tidak memuaskan, Sugondo akhirnya memberikan izin untuk memperkenalkan lagu tersebut, dengan syarat hanya dimainkan melodi biola.
Melodi yang Menggetarkan JiwaDengan semangat yang membara, WR Supratman berdiri di hadapan peserta kongres, mengeluarkan biolanya, dan mulai menggesekkan senar-senarnya. Suara melodi “Indonesia Raya” mengalun indah, membawa semua peserta dalam suasana khidmat. Antusiasme para pemuda membuat suasana menjadi lebih hidup. Mereka berdiri dan menikmati lantunan lagu tersebut dengan penuh rasa bangga, bahkan ketika lagu selesai, Supratman dirangkul dengan mata berkaca-kaca oleh peserta kongres.
Salah satu momen yang paling mengesankan adalah ketika para pemuda yang hadir meminta Supratman untuk mengulangi penampilannya. Seruan “Bis! Bis! Bis!” menggema, menandakan betapa lagu ini telah menyentuh hati mereka. Namun, Supratman menepati janjinya untuk tidak menyanyi, tetap menjaga kesepakatan yang telah dibuat dengan Sugondo.
Awal Sebuah LegendaLagu “Indonesia Raya” pertama kali diperkenalkan setelah Supratman terinspirasi oleh sayembara yang diterbitkan di sebuah majalah pada tahun 1924. Dalam sayembara tersebut, dicarikan seseorang yang bisa menciptakan lagu kebangsaan untuk Indonesia. Supratman pun menjawab tantangan ini dengan menciptakan komposisi musik dan lirik yang orisinal. Sejak malam Sumpah Pemuda itu, namanya mulai dikenal luas dan lagu tersebut menjadi sangat populer di kalangan pemuda.
Namun, popularitas lagu “Indonesia Raya” juga menarik perhatian pemerintah kolonial. Gubernur Jenderal Belanda, De Graeff, sampai harus menegaskan bahwa lagu tersebut bukanlah lagu kebangsaan dan melarangnya untuk diperdengarkan secara umum pada tahun 1930. Akibatnya, WR Supratman dipanggil dan diinterogasi oleh aparat Belanda. Ia membantah tuduhan bahwa lagunya menghasut rakyat untuk memberontak, dan menunjukkan lirik asli yang mencantumkan kata “Mulia” bukan “Merdeka”.
Perjuangan dan KesedihanSejak saat itu, WR Supratman hidup berpindah-pindah untuk menghindari penangkapan. Ia terus berjuang meskipun dalam keadaan tertekan. Namun, kesehatan Supratman menurun, dan pada tahun 1938, ia ditangkap lagi oleh Belanda karena lagu “Matahari Terbit” yang dianggap mendukung Jepang. Meskipun ia dibebaskan karena kurangnya bukti, kondisi kesehatannya semakin memburuk.
WR Supratman wafat pada 17 Agustus 1938, tujuh tahun sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan. Meskipun ia tidak dapat menyaksikan kemerdekaan bangsanya, warisannya hidup melalui lagu “Indonesia Raya”, yang hingga kini tetap berkumandang sebagai simbol persatuan dan semangat perjuangan bangsa.
Momen Sumpah Pemuda dan keberanian WR Supratman dalam memperkenalkan lagu kebangsaan merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Di tengah tantangan dan ancaman, lagu “Indonesia Raya” telah menjadi nyanyian yang menyatukan hati dan jiwa bangsa, mengingatkan kita akan pentingnya persatuan dalam mencapai kemerdekaan dan kedaulatan. Hingga hari ini, lagu ini terus menginspirasi generasi penerus untuk menjaga semangat perjuangan yang telah diwariskan.
(N/014)
MEDAN Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Muhammad Bobby Afif Nasution menegaskan pentingnya peran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) s
PEMERINTAHAN
MEDAN Suasana penuh keceriaan mewarnai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Gedung Pancasila, Universitas Sumatera Utara (USU), S
PEMERINTAHAN
MEDAN Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 di Kota Medan menghadirkan momen yang menghangatkan suasana. Di tengah semarak penampilan
PEMERINTAHAN
Oleh Samuel Marganda Tua Lumban GaolTRI Dharma Perguruan Tinggi adalah fondasi utama eksistensi setiap universitas di Indonesia. Sebagaiman
OPINI
JAKARTA Harga beras di tingkat konsumen terus mengalami kenaikan meski pemerintah menyatakan cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelo
EKONOMI
JAKARTA Bank Central Asia (BCA) kembali membuka program Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2026 sebagai salah satu bentuk dukungan terhadap pelak
EKONOMI
GORONTALO Sebanyak 11 warga negara asing (WNA) dan satu awak kapal berhasil selamat setelah speedboat yang mereka tumpangi tenggelam aki
PERISTIWA
MALANG DPD PDI Perjuangan Jawa Timur menggelar RedTalks 2026 bertajuk Suara Muda untuk Jatim Keren Indonesia Punya Kita, Nasionalisme
POLITIK
JAKARTA Rumah mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S Deyang, tampak dijaga ketat setelah dirinya resmi mengundurkan diri dari
NASIONAL
TANJUNGBALAI Polres Tanjungbalai menetapkan D alias A, suami seorang guru Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kota Tanj
HUKUM DAN KRIMINAL